Showing posts with label romantic. Show all posts
Showing posts with label romantic. Show all posts

Sunday, February 28, 2016

A Copy of My Mind (2015): Modesty Wins It All

Saya sudah tidak bisa mengingat kapan terakhir saya menyaksikan film Indonesia di bioskop. Alasannya? Sejujurnya saya seringkali merasa rugi menyaksikan film Indonesia di bioskop kalau dalam beberapa bulan kemudian saya bisa dengan mudah dan murah menyaksikannya di tv. Namun kali ini berbeda, selain karena tugas kantor, saya juga tertarik menyaksikan film yang sudah berkelana ke beberapa festival film internasional, plus, Joko Anwar sang sutradara sendiri menjamin film ini tidak akan muncul di televisi. Jadilah saya menonton A Copy of My Mind.



Saat press conference pemutaran perdana film ini, seseorang pemain dalam film teresebut berkomentar bahwa film ini adalah film Joko yang paling jujur. Sebagai seseorang yang tak terlalu mengetahui semua karya Joko, saya tidak dapat  berkomentar banyak akan pendapat tersebut. Satu hal yang belas, adalah bahwa dalam A Copy of My Mind, Joko berusaha keras memasukan semua unsur Jakarta dan Indonesia yang dikenalnya, ke dalam film. Penonton diharapkan bisa merasakan Indonesia, dan mengecap Jakarta yang dikenalnya. Sehingga seharusnya penonton bisa merasakan kedekatan dengan karakter dan kisah yang dibangun dalam film.

Saya merasakan kedekatan itu. Hanya saja bukan karena setting atau konflik, yang membuat perasaan familiar itu muncul. Saya merasa dekat dengan film ini verkat kesederhanaan kedua karakter utama yang diperankan oleh Chicco Jerikho dan Tara Basro. Sederhana dan cenderung dangkal, baik Chicco dan Tara memikat saya lewat karakter yang mereka mainkan. Interaksi keduanya begitu meyakinkan. Saling melontarkan kalimat menggoda. Kadang tak lengkap dan terkesan bodoh, namun saya merasa akrab dengan Sari dan Alek. Layaknya teman atau tetangga yang sering kita dengarkan celotehannya.

A Copy of My Mind bercerita tentang hubungan sepasang manusia, Sari dan Alek, yang berasal dari kalangan bawah di Jakarta. Terhimpit diantara rutinitas  membosankan di tengah carut marut ibu kota. Asing namun begitu dekat dengan berbagai konflik yang bisa jadi beririsan dengan nasib mereka. Joko berusaha menghadirkan potret romantis dalam jagat yang besar. Politik dan Indonesia. Joko menyisipkan kehebohan pemilu 2014. Kasus korupsi dan mafia suap, dua kata yang telah biasa ditelan oleh para penonton. Namun dalam film ini jagat besar itu rupanya tak terlalu berpengaruh dalam kehidupan yang begitu kecil. 


Disini saya melihat upaya Joko menciptakan kedua tokoh protagonisnya sejujur dan sesederhana mungkin. Sebagaimana yang mungkin ia tangkap dari kebanyakan manusia Indonesia. Sari dan Alek yang kemudian terjebak dalam masalah besar. Lebih besar dari kehidupan mereka. Namun hal tersebut rupanya tak membawa begitu banyak perbedaan. Sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya, terkadang konflik besar tersebut tak ubahnya menjadi colekan kecil dalam alur hidup mereka. Sedikit mengubah ritme. Membuat cemas namun tak lama itu akan menjadi memori. Sementara kita kembali ke rutinitas kehidupan kita sebagaimana mestinya. Seakan tak ada yang terjadi. 

Pada akhirnya saya merasa harus setuju dengan pendapat di awal tulisan ini, bahwa A Copy of My Mind merupakan sebuah film yang jujur. Setidaknya kejujuran searing sutradara dalam menghadirkan kisah mengenai Jakarta dan manusia Indonesia-khususnya-Jakarta versinya. Ditambah dengan kesederhanaan yang memikat dari kedua karakter ciptaannya adalah dua poin unggul bagi seorang Joko Anwar. 

Monday, December 28, 2015

The Danish Girl: The Messed-up Storytelling

Queer cinema always fascinates me. Terlebih ketika film produksi Hollywood yang mencoba melangkah ke area yang selalu sulit untuk diterjemahkan. Menarik untuk melihat bagaimana interpretasi seorang sutradara dan rumah produksi Hollywood terhadap isu queer. Untuk kalian yang tidak tahu apa itu queer, istilah ini merupakan istilah awam yang biasa ditujukan untuk menyebutkan kelompok gay atau transgender. Namun sebenarnya, istilah queer tidak terbatas pada itu saja, melainkan dapat digunakan pada semua spektrum seksualitas, di luar heteroseksual. 



Sekedar informasi, The Danish Girl sendiri termasuk dalam kategori Queer Cinema, yang antara lain didefinisikan dengan tiga kriteria yang antara lain; dibuat oleh seorang queer, mengangkat tema yang berkaitan dengan isu queer, atau diceritakan dari sudut pandang queer. The Danish Girl mengangkat isu queer dengan mengisahkan kehidupan Einar Wegener, seorang pelukis populer yang menjadi orang pertama yang melakukan operasi pergantian kelamin, yang termasuk dalan kategori queer. 

Film ini merupakan karya sutradara Tom Hooper yang telah banyak mencetak prestasi lewat karya sebelumnya yakni The King’s Speech dan Les Miserables. Lewat The Danish Girl, Tom menghidupkan kembali momentum besar dari sejarah transgender. Lili Elbe adalah wanita pertama yang menjalani operasi perubahan kelamin dan kemudian identitasnya juga berubah secara hukum. Sebagai catatan, film ini tidak seratus persen menjejak pada realitas secara keseluruhan. Film ini hasil adaptasi dari novel yang terinspirasi dari kehidupan Einar Wegener. Jadi lebih tepat jika film ini disebut ‘terinspirasi dari kisah nyata’.

Kisah dimulai dengan sekilas hubungan Einar (Eddie Redmayne) dan istrinya Gerda Wegener (Alicia Vikander). Hubungan keduanya harmonis, meskipun sama-sama pelukis, kehidupan mereka tampak bahagia, penuh canda, dan kasih sayang. Gerda adalah sosok wanita berjiwa bebas dengan opini yang kuat. Ia menyeimbangkan Einar yang lebih pendiam, senang menjadi pengamat, dan memuja Gerda sepenuh hati.

Eddie Redmayne sebagai Lili Elbe/Einar Wegener

Transformasi Einar dimulai ketika Gerda memintanya menjadi model untuk lukisan ballerina yang tengah dibuatnya. Mengenakan stocking dan sepatu berhak, serta memegang baju wanita, Einar seakan menemukan sisi dirinya yang lain. Dari momen ini semuanya berlanjut, Einar kemudian mengikuti permainan Gerda, berpura-pura menjadi wanita untuk menemani Gerda ke sebuah pesta. Secara total pasangan ini menyiapkan kamuflase, tanpa mereka tahu bahwa ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidup mereka.

Sosok Lili pun lahir untuk pertama kalinya. Mendebarkan sekaligus menyenangkan bagi Einar. Konflik muncul saat Lili terlalu jauh mengikuti instingnya dan terpikat pada Henrik (Ben Wishaw). Gerda pun mulai melihat suaminya berubah. Peristiwa itu membuatnya tidak bisa kembali utuh menjadi suami Gerda. Lili semakin nyata, menenggelamkan Einar.

Eddie Redmayne adalah aktor yang luar biasa. Ia meraih Oscar, Bafta, dan Golden Globe, serta sederet penghargaan lainnya berkat perannya dalam The Theory of Everything. Berbeda dengan tantangan fisik ketika ia bermain sebagai Stephen Hawking, kali ini ia ditantang untuk menunjukan perubahan gender. Tak kasat mata tapi harus terkesan nyata. Transformasi Lili bukan sekedar urusan makeup atau gerakan gemulai. Eddie harus menjadi transparan, membiarkan audiens yang mayoritas cisgender bersimpati padanya. Terhadap konflik batinnya. Sayangnya visi tidak berhasil. Eddie hanya semata-mata memanfaatkan gestur dan raut wajah tanpa betul-betul menyampaikan apa rasanya menjadi seorang Lili.

Alicia Vikander sebagai Gerda Wegener

Mungkin kekurangan ada pada interpretasi filmnya. The Danish Girl seharusnya bercerita tentang Lili Elbe, wanita yang menemukan jati dirinya dibalik ‘kesalahan’ fisiknya. Namun film ini justru membiarkan Gerda mengambil posisi utama terlalu banyak. Kemelut Gerda sebagai sosok yang kehilangan suami namun tetap menjadi sahabat yang baik, diperlihatkan begitu nyata dan kuat oleh Alicia Vikander. Memang posisi Alicia jauh lebih mudah. Siapapun akan bersimpati pada sosok heroine yang harus mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain, bukan?

Permasalahan semakin nyata ketika menyadari screenplay karya Lucinda Coxon gagal menampilkan semangat dari sosok Lili Elbe. Justru malah terperangkap dalam drama heteroseksual yang bahkan buat sosok utama. Extreme close-up khas Tom yang mungkin berhasil di Les Miserables, justru kali ini tak lebih dari sekedar dramatisasi yang mengganggu. Membesar-besarkan air mata, justru melupakan hal terpenting yakni semangat Lili Elbe untuk bebas menjadi dirinya sendiri. Menentukan nasibnya sendiri.

The Danish Girl jelas masuk dalam deretan queer cinema jika merujuk pada karakteristik yang ada, namun ia adalah anomali. Ia diangkat dari novel yang tidak sepenuhnya menceritakan kebenaran, dan kisahnya juga semakin terpecah ketika harus diadaptasi lewat visi Hollywood. Hanya menyentuh permukaan dan bermain pada identitas, tanpa benar-benar fokus pada kisah aslinya. Pada akhirnya The Danish Girl masuk dalam jajaran film Hollywood lainnya yang hanya mengusung sensasionalitas dari tema transgender untuk meraih penonton. So it’s another missed opportunity for Hollywood, better luck next time!



PS: I've been so lazy to fill this blog, so I hope in the upcoming years I will be more dedicated and diligent with this blog! See you in 2016, and Happy New Year!

Wednesday, May 14, 2014

The Amazing Spider-Man 2 (2014): It's a Sweet Rom-Com

Hello, hello! Hi fellow moviegoers, it has been a long time since my last post (last year, huh?). I’m sorry about the hiatus, but lot of stuff happen in my life and I need some time to make things in order again.

And now back to business. The last movie I’ve watch is The Amazing Spiderman: Rise of Electro or better known as The Amazing Spider-Man 2.



Kesuksesan film pertamanya, The Amazing Spider-Man (2012) membuat sekuel yang kembali dikomando Marc Webb ini begitu di nanti. Belum lagi spoiler akan kemunculan karakter antagonis Green Goblin, Electro dan Rhino membuat para penggemar komik Marvel begitu antusias dan membuat sekuel ini sebagai salah satu film paling ditunggu di 2014.

And the result was? An overplotting and messy superhero movie. Alex Kutrzman dan Roberto Orci sebagai penulis gagal meramu scenario yang tersusun rapi. Subplot-subplot saling tumpang tindih dan terlalu memaksa sehingga karakter terasa tidak matang. Sepertinya Marc Webb terlalu tergesa-gesa memperkenalkan semua musuh legendaris Spiderman demi menyiapkan kemunculan Sinister Six di film ketiga nanti. Karakter musuh dalam film kali ini sama konyolnya dengan The Lizard (he wants to turned everyone in NYC into lizard? Like seriously?!) Dan love-turn-to-hate yang dialami oleh Electro kepada Spiderman (James Foxx) terasa palsu. He mad at Spiderman because he found him as selfish bastard, duh.

Sementara itu Dane DeHaan sebagai Harry Osborn aka Green Goblin muncul mencuri perhatian dengan penampilan flamboyan nan sophisticated, like he was born to play as villain. Namun obsesinya akan darah Spiderman as weird as The Lizard stuff. It was boring. It’s felt like Webb just thrown every villain in Spiderman’s comic book.  Subplot lain yang terbuang sia-sia adalah rahasia ayah Peter kenapa ia meninggalkan anak tunggalnya. Peter figured out about the secret subway station, and then so what? Nothing happens. Except may be Webb try to save it for the last movie.


So sweeeeeeeet.

Kehancuran film ini terselamatkan oleh kekuatan cinta (yes, it’s true) antara Andrew Garfield dan Emma Stone. Berperan sebagai sepasang kekasih di depan layar, Peter Parker dan Gwen Stacy, chemistry antara off-screen lover ini begitu kuat. Disini Webb menunjukan kualitas penyutradaraan seperti dalam (500) Days of Summer yang membuat namanya melejit. Akting Stone membuktikan dirinya sebagai salah satu Hollywood it-girl. She was stunning and brilliantly beautiful. Seeing Gwen and Peter makes you blushing, heartbroken and cheers when they back together. Then I wish they were in rom-com movie without web-slinging superhero. Yeah, make it happen, Hollywood, they deserve The Notebook-kind movie!!

Thursday, July 11, 2013

Salmon Fishing In The Yemen (2011) : Fishing, Faith and Salmon

I know, a lot of recent movies in theaters and I could make reviews about them. But, I still have no time to visit theater yet, so I have to satisfy myself with my cable tv. Thanks God, it airing Salmon Fishing In The Yemen.


(taken from Google)


First time I know about this movie was when I watched Golden Globes in 2012. And this movie was in nomination for Best Movie in Comedy or Musical. But, I have no idea, what this movie about. Personally, the title was ridiculous for me. But, after I watched the movie, well, I think it was a good one.

Salmon Fishing In The Yemen adalah judul dari epistolary novel karya Paul Torday, and it’s all about political satire. Kemudian dengan kepiawaian Simon Beaufoy (Slumdog Millionaire) buku kemudian menjadi skrip film yang mendapat tiga nominasi dalam Golden Globes 2012 lalu.

Kegiatan memancing ikan salmon di Inggris sebenarnya merupakan sebuah olahraga yang biasa dilakukan oleh para penggila mancing di Negeri Ratu Elizabeth tersebut.  Populasi ikan salmon yang terkenal bisa berenang melawan arus ini pun banyak ditemukan di Laut Atlantik Utara yang dekat dengan wilayah Skotlandia. Lantas kegiatan memancing ini kemudian menjadi isu penting ketika Sheikh Mohammed seorang raja minyak (Amr Waked) menginginkan agar bisa memancing salmon di tanah asalnya, Yaman. Namun ide gila yang mengharuskan 10.000 ikan salmon dipindahkan hidup-hidup dari Inggris ke Yaman ini didukung oleh pemerintah, terutama karena bisa menjadi publikasi yang baik bagi hubungan UK dan timur tengah. Look, for political reason even the silliest idea could be a good and only opt that’s existed. Ide yang konyol untuk memindahkan puluhan ribu ikan salmon hidup semakin kocak dengan tampilnya Kristin Scott-Thomas as Patricia Maxwell, juru bicara Perdana Menteri yang mendukung benar ide ini karena bisa berdampak bagus bagi atasannya. Dengan gayanya yang comical, Maxwell menambah unsur how-ridiculous-this-idea-and-also-the-government.

Hanya saja, political satire justru menjadi subplot sampingan dalam film yang diarahkan oleh sutradara Swedia, Lasse Hallstrӧm. Salmon Fishing In The Yemen malah lebih banyak memperlihatkan sisi humanis yang ditemukan dalam sosok protagonist Dr Alfred Jones (Ewan McGregor), pegawai negeri dari Departemen Perikanan dan Perburuan yang bertugas bertanggung jawab akan proyek Salmon Fishing ini. Dr. Jones adalah pria yang hampir mencapai usia paruh baya dengan pernikahan yang ‘dingin’ dan istri yang telah dikenalnya sejak remaja. Kehidupan Dr Jones hanya berkutat dalam pekerjaan dan keluarga yang sama-sama menjemukan.

Rupanya Hallstrӧm menginginkan film ini bukan melulu political satire tapi lebih menggambarkan ide penyatuan antara western dan eastern (atau middle-eastern tepatnya). Tampilnya Sheikh Mohhamed yang charming, wise and very open minded seakan berusaha menunjukan keterbukaan dan pesona timur tengah. Bahkan ada beberapa dialog preachy about faith and religion dari sheikh, tapi sangat soft, sehingga penonton tak perlu takut merasa digurui. Pesona dari sheikh ini juga didukung dengan didapuknya Amr Waked, aktor asal Mesir yang tampan and charismatic, mengingatkan kita pada sosok Ben Kingsley.

Belumlah cukup sebuah film tanpa romantisme. Sembari mempersiapkan proyeknya Dr. Jones pun menemukan romantisme dari sosok Harriet Chetwode-Talbot (Emily Blunt), personal assistant yang didaulat untuk mengurus proyek ini. Bersama dengan Harriet, Dr. Jones melewati setiap permasalahan dalam proyek ini, sekaligus dalam hubungan mereka. Ketika pada akhirnya, Harriet jatuh pada pesona Dr Jones, usai kekasihnya dinyatakan hilang dalam perang di Afganistan.


Dr Jones and Harriet during a dinner scene (also taken from Google)


Chemistry antara Harriet dan Dr. Jones dimainkan dengan sangat baik. McGregor berhasil bertransformasi dari sosok Scottish-Hottie that played as Obi-Wan Kenobi in Star-Wars jadi pria paruh baya membosankan dan tidak punya sense of humor sama sekali. Yang tentunya berkebalikan dengan sosok Harriet yang cantik dan mempesona. Dalam film ini perubahan hubungan keduanya terlihat kentara tapi tidak terburu-buru. Perubahan hubungan keduanya yang semula professional menjadi kedekatan emosional harus saya acungi jempol. Both of them radiate passions for each other but also the awkwardness when they together, makes them such a darling couple.

But still happiness is a long journey for Dr. Jones, ketika muncul ancaman dari pihak extremist Yaman yang mengancam kelangsungan proyek, karena tidak menyukai kehadiran ikan-ikan western tersebut ke tanah Yaman. Bahkan ada rencana pembunuhan terhadap Sheikh Mohammed yang berhasil digagalkan Dr. Jones dengan alat pancingnya! Bisa dibilang ide terorisme ini adalah subplot lain yang tampak setengah-setengah dan tidak membawa tension apapun pada film. 


Film ini jelas bukanlah film yang sempurna membawa misi political satire seperti bukunya, tapi Salmon Fishing In The Yemen dengan baiknya memberikan romantisme komedi melalui cara yang unik dan tidak biasa. Memasukan sedikit petuah tanpa harus jadi berat dan menggurui. Semuanya tampak tidak masuk diakal, hingga kita menyaksikan film ini sampai habis dan menemukan sendiri apa yang mau kita ambil. Salah satunya mungkin telah diucapkan oleh Sheikh Mohammed bahwa faith punya nilai yang sama seperti memancing, yakni all about tolerance, patience and humility. 

Monday, May 20, 2013

The Great Gatsby (2013) : Hopelessly Romantic or American Dream?




‘The Great Gatsby’. Awalnya saya sama sekali tidak punya bayangan film apakah ini. Aksi? Drama? Thriller? Atau jenis film ‘njelimet’ yang biasa dibintangi oleh Leonardo DiCaprio? Judulnya pun tidak memberikan saya petunjuk sedikitpun tentang film ini. Apa sih hebatnya si Gatsby ini sampai harus dijuluki ‘The Great’? Well, semua pertanyaan saya terjawab ketika melihat adegan the main character, Jay Gatsby (Leonardo DiCaprio). Adegan tersebut menampakan wajah Gatsby secara close-up, sementara di belakangnya tampak kembang api berwarna-warni di langit malam, dan gemuruh teriakan orang-orang di pesta mewah yang diadakan olehnya. Intinya Gatsby tampak menjanjikan sebagai ‘The Great’. Muda, tampan, kaya raya, menyenangkan dan punya banyak teman.

Awal film digunakan untuk memperkenalkan seluruh kehebatan Gatsby dari sudut pandang Nick Carraway (Tobey Maguire), pengamat-teman-sekaligus narrator dari kisah hidup Gatsby. Nick, bercerita dari masa depan, menghantarkan kita pada kisah Gatsby, tetangganya yang misterius, suka mengamati Nick dari kastilnya yang besar, atau berdiri melamun pada malam hari di dermaga mencoba menggapai sesuatu. Lalu kemudian Nick punya kesempatan mengenal Gatsby lebih jauh, dan penonton pun bisa tahu seperti apa sosok Gatsby. Pria ini hidup bergelimang harta di rumah yang menyerupai Disney magical castle, menyelenggarakan pesta di setiap akhir pekan,  berteman dengan orang-orang hebat, serta tampak punya bisnis rahasia, karena begitu seringnya telepon berdering untuknya.

Seperti Nick yang kagum dengan kehidupan Gatsby, penonton juga dibawa terkagum-kagum dengan pesta yang disajikan di layar. Baz Luhrmann, sang sutradara menampilkan pesta yang hebat, tampak seperti penampilan Broadway yang dibawa ke dalam istana. Confetti, wine, balon, wanita dengan gaun dan hiasan kepala yang unik, pria berjas mahal dan trendy, penari yang berkostum gemerlap, belum lagi rumah Gastby sendiri sangat mengagumkan dengan sentuhan Art Deco dan lampu gemerlap seperti berlian. Very extravagant.

Namun seluruh kemewahan, uang, minuman keras dan istana yang dimiliki Gatsby hanyalah sebuah bagian dari upayanya mencapai obsesi terbesarnya, yakni cinta pertama yang gagal dimilikinya, seorang wanita bernama Daisy Buchanan (Carey Mulligan), yang juga sepupu Nick. Daisy kini telah berkeluarga dengan seorang pria kaya bernama Tom Buchanan (Joel Edgerton).  Disinilah kita bisa melihat sosok lain dari Gatsby, ia bukan sekedar pria kaya yang royal atau pebisnis dengan uang haram, ia adalah seorang pria romantis yang ingin bersama dengan wanita yang dicintainya. Mimpi terbesarnya adalah mengulang waktu agar bisa kembali bersama Daisy.

Jika sebelumnya Luhrmann menampilkan pesta yang luar biasa hebatnya, kini harus dikatakan ia kurang mampu menampilkan sisi romantisme sekaligus adegan flashback Gatsby dan Daisy. Adegan flashback dibuat dengan hitam putih dan efek computer yang kasar (entah jika memang dibuat sengaja seperti itu), atau adegan dimana Gatsby mengingat surat terakhirnya untuk Daisy, yang tampak terbayang di langit. Cukup menggelikan dan mengganggu. Beberapa review malah mengatakan gaya Luhrmann dalam mengadaptasi novel masterwork karya F. Scott Fitzgerald ini, sangat kasar, vulgar dan cenderung norak. Luhrmann tampak terlalu fokus menampilkan sisi gemerlap dan berlebihan dalam dramatisasi beberapa adegan, hingga The New Yorker dan The Guardian memasukan kata ‘orgy’ dalam impresinya terhadap beberapa adegan. Tapi, saya harus akui saya tidak terlalu terganggu dengan gaya sutradara Luhrmann. Sejak menyaksikan ‘Romeo + Juliet’ yang menurut saya comical dan sangat pop, saya cukup menyukai gaya penyutradaraanya, meski memang ‘The Great Gatsby’ jauh lebih berlebihan dibandingkan ‘Romeo + Juliet’. Terkadang efek latar dari komputer yang tampak tidak menyatu dengan para aktor justru menjadikan kisah ini seperti berada di dunia dongeng yang tampak unreal.

Pujian tertinggi harus saya haturkan pada sosok Leonardo DiCaprio. Ia tampil meyakinkan, sebagai sosok pria yang begitu optimis, namun di kesempatan lain bisa sangat grogi dan naïve bila berhadapan dengan pujaan hatinya. Adegan yang menurut saya tidak bisa dilupakan dalam film ini ketika Gatsby tampak luar biasa grogi menantikan kesempatan bertemu kembali dengan Daisy. Leo mampu mendapatkan simpati penonton atas romantisme sekaligus menimbulkan gelak tawa karena sikapnya. Penampilan Leo dalam 'The Great Gatsby' sekaligus mengingatkan saya betapa ia punya pesona yang kuat. Sama seperti Jack Dawson dalam 'Titanic', tatapan mata Gatsby sanggup melelehkan hati wanita. 



Carey Mulligan sendiri tampil luar biasa cantik. Mulligan mampu menjadi sosok Daisy yang rapuh, ketakutan dan bingung atas apa yang ia inginkan. Daisy menjadi tipikal wanita yang selalu diinginkan pria, namun ia sendiri bingung atas apa yang ia inginkan. Hingga butuh sebuah ledakan emosi besar dalam film ini untuk menggoncangnya dan membuat ia mengambil sikap.

Sementara Tobey Maguire sebagai Nick Carraway juga tidaklah buruk, meski jauh dari kata mengesankan. Kaitan emosi antara Nick dan Gatsby merupakan salah satu hal yang tampak dengan sangat baik dalam film ini. Nick memiliki kekaguman (atau rasa cinta ?) luar biasa besar pada sosok Gatsby, meski diawal sempat tak percaya padanya. Pada akhirnya hanya Nick lah sosok yang selalu menemani Gatsby dan memberikan pujian baginya,

"They're a rotten crowd. You're worth the whole damn bunch put together." –Nick Carraway

Lantas sebenarnya bercerita tentang apakah film ini? Kisah cinta? Pada dasarnya ya, salah satu sisi kisah ini ialah romantisme percintaan. Tetapi kisah ‘The Great Gatsby’ sebagai salah satu novel klasik terbaik dalam sejarah sastra Amerika, bercerita tentang American Dreams. Uang yang melimpah, pesta yang mewah, mobil bagus, jas mahal, dan tentunya seks. Jika Gatsby adalah sosok yang berhasil meraih American Dreams, Nick adalah pria yang baru hendak menapaki mimpi tersebut, namun akhirnya melihat betapa busuk dan memuakannya semua itu.

Akan tetapi interpretasi saya tentang film ini bisa saja salah. Maklum saja karena menurut beberapa sumber, usai novel ini diterbitkan, Fitzgerald mengeluhkan bahwa dari seluruh kritik yangditujukan pada novel ini, tidak ada satupun yang mampu memahami tentang makna sebenarnya dari ‘The Great Gatsby. Dan mungkin memang belum ada seorang pun yang paham betul tentang apa sebenarnya film ini. Jika menurut beberapa orang interpretasi Luhrmann serta rekan penulisnya, Craig Pearce, terhadap kisah Gatsby adalah terlalu dangkal dan tidak menampilkan keseluruhan lapisan dan intrik di dalamnya, maka itu bisa saja. Tapi bagi saya yang memang tidak mengenal kisah ini sebelumnya serta belum membaca novelnya, saya cukup merasa puas menyaksikan Gatsby dan obsesinya berdasarkan perspektif Luhrmann, meskipun berarti saya ikut menjadi dangkal dan norak bersama Luhrmann, seperti tuduhan kritikus lainnya.