Showing posts with label Oscar. Show all posts
Showing posts with label Oscar. Show all posts

Wednesday, March 2, 2016

Spotlight (2015): Exposing The Truth

Salah satu kejutan dalam perhelatan Oscar 2016 adalah ketika Piala Oscar untuk kategori Best Picture jatuh pada film Spotlight. Bukan karena film ini jauh dari standar ‘best’ hanya saja, well, the odds are with The Revenant and most people think it will win. Sementara Spotlight memiliki suara yang lebih senyap, sehingga less favorite as Best Picture. Namun rupanya Morgan Freeman sebagai pembaca nominasi, malam itu mengumumkan Spotlight sebagai film terbaik versi Academy Awards.



Sebagai seseorang yang sudah menyaksikan Spotlight. Film arahan sutradara Tom McCarthy ini secara instan memerangkap saya dalam jagat yang diciptakan oleh sang sutradara dan penulis skrip. Jagat yang merupakan realita, karena film ini merupakan drama historis berdasarkan peristiwa nyata tentang sekelompok jurnalis investigasi untuk harian The Boston Globe. Kerja keras dan persistensi mereka pada akhirnya mengungkap salah satu memori terburuk dalam sebuah organisasi tertua dan (mungkin) terkuat di Amerika, bahkan dunia, gereja Katolik.

Pada 2002, tim Spotlight dari harian Boston Globe mengungkapkan skandal besar yang selama ini disembunyikan oleh pimpinan gereja di Kota Boston. Bahwa ada begitu banyak pastur menjadi predator seksual bagi anak-anak. Sementara pimpinan gereja tertinggi di kota tersebut menutup mata dan menutupi tindakan bejat para pemuka agama ini, yang pada akhirnya menimbulkan korban yang semakin banyak.

Adalah editor baru Marty Baron (Liev Schreiber) yang menugaskan tim Spotlight untuk mengungkap fakta dibalik tuntutan kepada seorang pastur. Di bawah komando editor Walter Robinson (Michael Keaton), Spotlight yang beranggotakan Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), Michael Rezendes (Mark Ruffalo), dan Matt Caroll (Brian d’Arcy James) kemidian berkejaran dengan waktu (sera koran lainnya) untuk mencari sumber, mengungkap fakta, dan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya terkait kasus ini.



Salah satu kritikus film yang saya sukai tulisannya, berkomentar bahwa film ini jauh lebih layak dari The Revenant untuk memenangkan Best Picture. Karena film ini jauh lebih penting. Film ini bercerita tentang isu sosial. Mengungkapkan suara yang telah lama diabaikan.  Bahkan hingga sekarang, kasus pelecehan ini masih ditutupi oleh pimpinan tertinggi, Vatikan. Sang kardinal yang dulu terlibat dalam kasus di Boston, sebagai pihak yang mengetahui kejahatan para pastur, malah ditunjuk menjadi seorang penanggung jawab gereja besar di Vatikan hingga ke masa pensiunnya.

Film ini juga penting karena menunjukan eksistensi jurnalisme (mendekati) ideal. Ketika kepentingan publik adalah nomor satu. Bukan sekedar menemukan individu pelaku tapi menunjukan kesalahan pada sistem. Memberikan informasi bagi masyarakat akan borok yang telah terlalu ditutupi dan harus segera dibenahi.

Sebagai seorang yang belajar sedikit mengenai jurnalisme, saya menikmati Spotlight. Terlihat bahwa adegan demi adegan dibangun begitu hati-hati. Tak ingin ada yag percuma atau terlihat berlebihan. Karena sama dengan semangat tim Spotlight, film ini memiliki intensi untuk mengungkapkan kebenaran. Rentetan adegan dan proses pencarian fakta yang dipaparkan menjadi sumber ketegangan yang sedikit mengingatkan saya pada film Roman Polanski, The Ghost Writer. Thriller tanpa ketiadaan aksi kekerasan yang nyata atau ancaman yang kentara.  

Ketiadaan posisi karakter yang kuat adalah satu-satunya kekurangan yang bisa saya temukan. Semua jurnalis yang terlibat, kecuali editor Marty Baron, memiliki latar dekat dengan institusi gereja Katolik. Mereka dibesarkan secara Katolik di Boston dan tahu betul bagaimana berpengaruhnya gereja bagi kehidupan masyarakat setempat. Akan tetapi sangat sedikit sekali terlihat keberadaan konflik pribadi dengan pekerjaan yang tengah mereka lakukan. Apakah mereka bisa dengan segitu mudahnya melepaskan atribut mereka dan berburu kebenaran? Sehingga film ini menjadi lebih fokus pada step by step perburuan berita yang seru dan seksi, ketimbang proses pergulatan batin.


Layak atau tidaknya Spotlight sebagai film terbaik mengalahkan Room yang lebih memainkan emosi, atau Bridge of Spies yang tak kalah menegangkannya dan karya tangan dingin Steven Spielberg, atau The Revenant yang akhirnya membawa Leo pada piala Oscar pertamanya, mungkin masih bisa diperdebatkan. Namun film ini bagi saya ini adalah tentang proses. Bukan menempatkan siapa sebagai pahlawan atau penjahat. Layaknya tugas seorang jurnalis, film ini tentang memaparkan fakta, memberikan pengetahuan mengenai sebuah isu, dan berharap yang terbaik bagi penontonnya. 

Monday, December 28, 2015

The Danish Girl: The Messed-up Storytelling

Queer cinema always fascinates me. Terlebih ketika film produksi Hollywood yang mencoba melangkah ke area yang selalu sulit untuk diterjemahkan. Menarik untuk melihat bagaimana interpretasi seorang sutradara dan rumah produksi Hollywood terhadap isu queer. Untuk kalian yang tidak tahu apa itu queer, istilah ini merupakan istilah awam yang biasa ditujukan untuk menyebutkan kelompok gay atau transgender. Namun sebenarnya, istilah queer tidak terbatas pada itu saja, melainkan dapat digunakan pada semua spektrum seksualitas, di luar heteroseksual. 



Sekedar informasi, The Danish Girl sendiri termasuk dalam kategori Queer Cinema, yang antara lain didefinisikan dengan tiga kriteria yang antara lain; dibuat oleh seorang queer, mengangkat tema yang berkaitan dengan isu queer, atau diceritakan dari sudut pandang queer. The Danish Girl mengangkat isu queer dengan mengisahkan kehidupan Einar Wegener, seorang pelukis populer yang menjadi orang pertama yang melakukan operasi pergantian kelamin, yang termasuk dalan kategori queer. 

Film ini merupakan karya sutradara Tom Hooper yang telah banyak mencetak prestasi lewat karya sebelumnya yakni The King’s Speech dan Les Miserables. Lewat The Danish Girl, Tom menghidupkan kembali momentum besar dari sejarah transgender. Lili Elbe adalah wanita pertama yang menjalani operasi perubahan kelamin dan kemudian identitasnya juga berubah secara hukum. Sebagai catatan, film ini tidak seratus persen menjejak pada realitas secara keseluruhan. Film ini hasil adaptasi dari novel yang terinspirasi dari kehidupan Einar Wegener. Jadi lebih tepat jika film ini disebut ‘terinspirasi dari kisah nyata’.

Kisah dimulai dengan sekilas hubungan Einar (Eddie Redmayne) dan istrinya Gerda Wegener (Alicia Vikander). Hubungan keduanya harmonis, meskipun sama-sama pelukis, kehidupan mereka tampak bahagia, penuh canda, dan kasih sayang. Gerda adalah sosok wanita berjiwa bebas dengan opini yang kuat. Ia menyeimbangkan Einar yang lebih pendiam, senang menjadi pengamat, dan memuja Gerda sepenuh hati.

Eddie Redmayne sebagai Lili Elbe/Einar Wegener

Transformasi Einar dimulai ketika Gerda memintanya menjadi model untuk lukisan ballerina yang tengah dibuatnya. Mengenakan stocking dan sepatu berhak, serta memegang baju wanita, Einar seakan menemukan sisi dirinya yang lain. Dari momen ini semuanya berlanjut, Einar kemudian mengikuti permainan Gerda, berpura-pura menjadi wanita untuk menemani Gerda ke sebuah pesta. Secara total pasangan ini menyiapkan kamuflase, tanpa mereka tahu bahwa ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidup mereka.

Sosok Lili pun lahir untuk pertama kalinya. Mendebarkan sekaligus menyenangkan bagi Einar. Konflik muncul saat Lili terlalu jauh mengikuti instingnya dan terpikat pada Henrik (Ben Wishaw). Gerda pun mulai melihat suaminya berubah. Peristiwa itu membuatnya tidak bisa kembali utuh menjadi suami Gerda. Lili semakin nyata, menenggelamkan Einar.

Eddie Redmayne adalah aktor yang luar biasa. Ia meraih Oscar, Bafta, dan Golden Globe, serta sederet penghargaan lainnya berkat perannya dalam The Theory of Everything. Berbeda dengan tantangan fisik ketika ia bermain sebagai Stephen Hawking, kali ini ia ditantang untuk menunjukan perubahan gender. Tak kasat mata tapi harus terkesan nyata. Transformasi Lili bukan sekedar urusan makeup atau gerakan gemulai. Eddie harus menjadi transparan, membiarkan audiens yang mayoritas cisgender bersimpati padanya. Terhadap konflik batinnya. Sayangnya visi tidak berhasil. Eddie hanya semata-mata memanfaatkan gestur dan raut wajah tanpa betul-betul menyampaikan apa rasanya menjadi seorang Lili.

Alicia Vikander sebagai Gerda Wegener

Mungkin kekurangan ada pada interpretasi filmnya. The Danish Girl seharusnya bercerita tentang Lili Elbe, wanita yang menemukan jati dirinya dibalik ‘kesalahan’ fisiknya. Namun film ini justru membiarkan Gerda mengambil posisi utama terlalu banyak. Kemelut Gerda sebagai sosok yang kehilangan suami namun tetap menjadi sahabat yang baik, diperlihatkan begitu nyata dan kuat oleh Alicia Vikander. Memang posisi Alicia jauh lebih mudah. Siapapun akan bersimpati pada sosok heroine yang harus mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain, bukan?

Permasalahan semakin nyata ketika menyadari screenplay karya Lucinda Coxon gagal menampilkan semangat dari sosok Lili Elbe. Justru malah terperangkap dalam drama heteroseksual yang bahkan buat sosok utama. Extreme close-up khas Tom yang mungkin berhasil di Les Miserables, justru kali ini tak lebih dari sekedar dramatisasi yang mengganggu. Membesar-besarkan air mata, justru melupakan hal terpenting yakni semangat Lili Elbe untuk bebas menjadi dirinya sendiri. Menentukan nasibnya sendiri.

The Danish Girl jelas masuk dalam deretan queer cinema jika merujuk pada karakteristik yang ada, namun ia adalah anomali. Ia diangkat dari novel yang tidak sepenuhnya menceritakan kebenaran, dan kisahnya juga semakin terpecah ketika harus diadaptasi lewat visi Hollywood. Hanya menyentuh permukaan dan bermain pada identitas, tanpa benar-benar fokus pada kisah aslinya. Pada akhirnya The Danish Girl masuk dalam jajaran film Hollywood lainnya yang hanya mengusung sensasionalitas dari tema transgender untuk meraih penonton. So it’s another missed opportunity for Hollywood, better luck next time!



PS: I've been so lazy to fill this blog, so I hope in the upcoming years I will be more dedicated and diligent with this blog! See you in 2016, and Happy New Year!

Monday, September 7, 2015

A Separation (2011): 'A Fast and Furious' from Iran

I know it’s already to late to talk about this movie. But since I just finished it several days ago, I really want to talk about this movie. Film yang meraih Best Foreign Language Film di ajang Oscar beberapa tahun lalu ini rasanya tepat untuk mengawali kembali aktifnya blog ini.



Menyaksikan A Separation rasanya seperti mengintip kehidupan dua keluarga yang berbeda, dari kelas sosial yang berbeda, dan permasalahan masing-masing, yang saling berbenturan di tengah membentuk jalin konflik yang terhubung dengan kondisi sosial dan aspek religi di Iran.

Tirai pertunjukan dibuka Asghar Farhadi dengan adegan yang kuat. Sepasang suami istri, Nader (Peyman Moadi) dan Simin (Leila Hatami) dengan menggebu-gebu mengajukan tuntutan perceraian mereka. Simin mengatakan ketidakmauan Nader untuk meninggalkan Iran adalah alasannya menceraikan sang suami, bukan karena keburukan tingkah laku. Awalnya Nader dan Simin sepakat untuk pergi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik, terutama untuk anak perempuan mereka yang tengah beranjak remaja, Termeh (Sarina Farhadi). Namun Nader mundur dari rencana tersebut, dengan alasan tidak bisa meninggalkan ayahnya yang menderita Alzheimer.

Adegan pembuka antara Simin dan Nader.


Lewat sepenggal adegan pertama, kita belajar begitu buruknya kondisi di Negara asal sang sutradara. Hingga bisa mengguncang mahligai rumah tangga yang telah terjalin belasan tahun. Adegan demi adegan berlanjut, makin memperjelas gambaran mengenai Iran dengan konteks sosial, ekonomi, budaya, dan juga agama. Tuntutan perceraian yang ditolak membuat Simin memilih meninggalkan Nader dan Termeh. Nader kemudian mempekerjakan Razieh, seorang wanita muslim yang taat, untuk mengurus rumah dan ayahnya. Razieh (Sareh Bayat) sendiri hadir dengan konflik pribadinya. Ia berkutat antara jarak rumahnya yang jauh, kondisinya yang tengah hamil, kerepotan mengurus rumah Nader dan ayahnya yang tua, serta aturan agama yang membatasi ruang gerak perempuan. Namun semua kondisi tersebut terpaksa ditanggung demi uang untuk membantu suaminya.

Hodjat dan Razieh yang membawa konflik baru dalam kehidupan Simin dan Nader.

Membicarakan A Separation tanpa membocorkan plot adalah hal yang cukup sulit.  Farhadi membangun plot begitu padat, tanpa adegan percuma yang sekedar pengisi. Semuanya saling melengkapi sebagai kesatuan yang utuh. Adegan demi adegan, konflik demi konflik saling membangun menghasilkan ekskalasi situasi yang luar biasa cepat. Seminggu setelah perpisahannya dengan Simin, Nader telah berstatus tersangka pembunuhan atas janin di perut Razieh. Kehidupan Razieh sendiri makin kompleks dengan histeria suaminya, Hodjat yang mudah naik darah dan berperilaku senang menyakiti diri sendiri. Empat karakter utama, serta karakter-karakter yang muncul di pinggiran juga tidak dibangun secara instan, dalam durasi yang tidak terlalu panjang, kompleksitas karakter tetap terbangun. Kita mengenal Simin, Nader, Razieh, Hodjat, Termeh, dan sosok lainnya dengan cepat dan baik.

Sulit untuk memahami A Separation dalam sekali pemikiran. Dilihat secara besar, film ini menangkap ketegangan antar kelas di Iran. Bagaimana Simin-Nader dan Razieh-Hodjat mewakili dua kelas berbeda, yang memiliki konflik. Secara individu, kita juga melihat bagaimana keempat persona ini adalah manusia dengan segala kekurangan mereka, karakter yang tidak mungkin kita hujat karena kita dapat merasakan korelasi dengan kehidupan mereka. Tiap karakter membawa keributan dalam kehidupan karakter lainnya. Kekeraskepalaan, harga diri, ketakutan, dan kecemasan, membuat kita tak bisa memojokkan seseorang saja sebagai antagonis yang patut dibenci. Setiap karakter bahkan melakukan kebohongan atau mementingkan diri sendiri. Namun siapa bisa menghujat mereka? Karena di satu sisi kita bisa memahami tiap keputusan yang diambil keempat tokoh utama ini. 

Sosok observan dengan sisi intelegensia yang kentara muncul dari sosok Termeh. Gadis berusia 11 tahun ini menjadi pengamat dalam pertunjukan sirkus orang dewasa. Sesekali ia melontarkan pertanyaan menohok hasil pengamatannya. Membuatnya menjadi sosok terpintar dalam film ini. Lewat matanya yang awas ia mencoba mencari rasionalitas dari tiap hal yang dilihat dan didengarnya.

Menyimpulkan film ini menghasilkan imej akan potret Iran yang coba digambarkan oleh Asghar Farhadi. Menariknya lebih jauh, film ini menampilkan Iran dalam sisi sosial, ekonomi, budaya, dan agama. Serta bagaimana perbedaan gender begitu vital di negara ini. Namun Asghar juga seakan membisikan kita untuk melihat A Separation dalam lingkup yang lebih sempit, yakni saat ia berbicara mengenai hubungan antar manusia dengan segala konfliknya, yang tak mampu kita hujat karena memang begitulah terkadang cara kita hidup di dunia kita. 

Wednesday, June 11, 2014

Maleficent (2014): Bring Me More Evil and Wicked Jolie!

Empat tahun absen di layar lebar tentunya publik menanti-nanti kehadiran salah satu Hollywood Royalty, Angelina Jolie. Sejujurnya, saya termasuk penggemar tunangan Brad Pitt ini, maka wajar kalau perannya dalam film Disney yang sangat un-Jolie-like, begitu saya tunggu. Beberapa trailers yang telah di buzz berbulan-bulan menunjukan ‘how wicked and badass she is’. Keren. Selain itu, tone film jauh lebih ‘gelap’ dibandingkan tipe film Disney lain yang bubbly dan happy.

Poster Maleficent yang membuat saya 'jatuh cinta'

Adegan dibuka dengan kisah masa kecil Maleficent. Sisi yang selama ini tidak tertulis dalam tiap dongeng. Maleficent adalah peri terkuat pelindung Moors, kawasan yang dihuni makhluk-makhluk fantasi. Maleficent kecil memiliki seorang sahabat manusia bernama Stefan. Di usia mereka yang ke-16, mereka berikrar dengan sebuah ciuman cinta sejati. Namun lambat laun, Stefan mulai berubah. Keserakahannya menjadikan Stefan tega memotong sayap Maleficent demi mengambil hati raja yang sudah sepuh dan menikahi puteri mahkota. Merasa dikhianati, Maleficent berubah menjadi sosok penuh angkara murka yang siap membalas dendam pada Raja Stefan.

Maleficent merupakan debut penyutradaraan Robert Stormberg yang sebelumnya sukses membawa pula 2 piala Oscar atas kiprahnya sebagai production designer dalam film Alice in Wonderland dan Avatar. Sayangnya Stormberg tak begitu piawai menerjemahkan skrip. Adegan yang muncul terasa berantakan dan tidak terarah. Narasi lambat, membuat adegan pembukaan terasa begitu panjang dan membosankan. Penyelamat dari kejenuhan ini adalah angkara murka Angelina Jolie.

Delishly evil!

Sebagai peri yang dikhianati, Jolie bisa mengeluarkan kepedihan itu dengan begitu baik. Namun tidak ada yang dapat mengalahkan ekspresi penuh dendam diwajahnya. Justru saya menatap layar penuh kekaguman saat Jolie hadir dengan bibir merah darah, tanduk yang mencuat, mata berkilat-kilat dan dendam kesumat. Aura jahatnya justru membuat film terasa lebih hidup dan menarik. Sebagai pembalasan dendamnya, ‘The Evil Maleficent’ hadir dalam pesta pembaptisan Aurora, putri Stefan. Kehadirannya di layar menutupi pesona pemeran lainnya. Jolie menguasai betul film ini.

Adegan-adegan minus Jolie, lewat begitu saja. Kehadiran tiga aktris papan atas Inggris, Imelda Staunton (Prof. Umbridge dalam Harry Potter), Juno Temple (Atonement, The Dark Knight Rises) dan Lesley Manville (Romeo & Juliet) sebagai trio peri pelindung Aurora, hanya jadi pengundang tawa yang tak di eskplorasi lebih jauh. Dijadikannya Sharlto Copley sebagai King Stefan rasanya adalah sebuah kesalahan. Ia bukan tandingan Jolie. Saat adegan berpasangan dengan Jolie, ia tampak menghilang dari layar. Untungnya, Elle Fanning bisa dengan mudah mencuri perhatian dalam film. Sebagai Aurora ia bisa menyeimbangkan kuatnya intensitas Jolie.

Sebagai penulis naskah Linda Woolverton memilih menunjukan sisi lain Maleficent ketika berhadapan dengan Aurora. Kebencian Maleficent menuntunnya pada perasaan sayang kepada Aurora. Meskipun ia menjuluki Aurora sebagai ‘Beasty’ alias Monster Kecil, rasa simpati tumbuh membuatnya menyesal telah mengutuk Aurora. Menggunakan ending a la Frozen, Maleficent dijadikan sebagai pemilik cinta sejati untuk Aurora.

Ketika promo film ini, Jolie pernah berkata bahwa sejak kecil ia menyukai sosok Maleficent karena daya tarik keangkuhan dan sisi jahat yang begitu menggoda. Pesona ini justru berkurang dalam Maleficent. Membiarkan penonton bersimpati dan melihatnya sebagai korban bukan pelaku. Padahal misteri kekejaman dan arogansi Maleficent membuatnya menjadi simbol antagonis Disney yang ikonik, dan tak terlupakan. Secara pribadi saya memilih untuk tetap melihat Maleficent sebagai The Evil, ketimbang menyaksikannya meneteskan air mata duka menangisi Aurora yang jatuh dalam tidur 1 menit panjangnya.


Mengharapkan Jolie membawakan aksi kejam dan licik yang sanggup membuat bulu roma berdiri, saya justru mendapatkan penjahat yang bertobat. Kerinduan menyaksikan aksi memukau Jolie di layar rasanya tak terpuaskan. Ledakan amarah dan kejahatan yang saya tunggu muncul hanya sekejap. I wish they showed me more deliciously evil Maleficent… 

Friday, June 6, 2014

How to Train Your Dragon 2 (2014): Funnier, Heavier and Toothless

Berusaha mengulang kesuksesan film pertamanya di 2010, DreamWorks merilis How to Train Your Dragon 2, kisah persahabatan tidak biasa antara manusia dan naga. Masih dikomandoi oleh Dean DeBlois, Dragon 2 ditunggu dengan iming-iming aksi yang lebih atraktif, konflik yang lebih matang dan menyayat hati. Coba ingat kembali ending How to Train Your Dragon yang menunjukan pada penonton bahwa pahlawan memang harus berkorban dan bahagia tak berarti sempurna. Akhir tidak terduga dari sebuah film animasi yang identik dengan ‘happy ever after’.



Dragon 2 dibuka dengan kondisi Berk, masyarakat Viking, lima tahun pasca konflik besar mereka dengan para naga. Kini masyarakat Berk hidup rukun bersama para naga. Makhluk penyembur api ini dilibatkan dalam setiap aktivitas warga. Bahkan sebuah pertandingan macam Quidditch pun melibatkan naga sebagai tunggangan. Sementara Stoick (Gerard Butler) kepala suku Berk ingin agar putranya, Hiccup (Jay Baruchel), menjadi kepala suku menggantikannya. Namun Hiccu lebih memilih mengeksplorasi daratan jauh bersama naga hitam kesayangannya yang menggemaskan, Toothless. Hiccup merasa menjadi kepala suku bukanlah ‘dirinya’.



DeBlois kembali berhasil memukau penonton dengan persahabatan antara Hiccup dan Toothless yang memang daya tarik terkuat dalam Dragon 1. Tingkah lucu Toothless benar-benar membuat penonton gemas pada hewan legenda ini. Sebagai karakter tanpa dialog, Toothless tetap jadi tokoh sentral yang menarik hati penonton dengan gestur dan kelakuannya yang menyerupai anak kucing. Toohtless jadi pencuri perhatian dalam setiap adegan!

Dibuka dengan menyenangkan dan berenergi kemudian digantikan oleh adegan mengundang air mata akibat konflik keluarga. Hiccup akhirnya bertemu kembali dengan ibunya, Valka (Cate Blanchett) yang selama ini ia anggap telah mati. Sang ibu yang menjadi penjaga para naga, memohon kesempatan kedua kepada anak yang ia tinggalkan. Valka memohon maaf dan memintanya untuk kembali membangun keluarga yang utuh. Sebuah lagu romantis a la Viking pun dinyanyikan oleh sosok besar Stoick pada Valka untuk memenangkan hatinya kembali. Adegan yang menyentuh hati.  

Tiran jahat hadir lewat sosok Drago Bludvist (Djimon Hounsou) yang berambisi menguasai semua naga dengan mengalahkan naga alfa yang selama ini dilindungi Valka. Peperangan pun tak terelakkan, dan memakan korban jiwa yang begitu besar, sekaligus mempertaruhkan persahabatan Hiccup dan Toothless.

DeBlois jelas berusaha menyeimbangkan setiap subplot yang dalam Dragon 2, dan sukses. Tiap bagian memiliki porsi jelas yang tidak sia-sia. Melewati berbagai konflik, mood penonton ikut terbentuk mengikut karakter berkat bantuan scoring yang luar biasa memikat dari John Powell. Sebelumnya score masuk nominasi Best Original Score untuk Academy Awards 2011 berkat karyanya dalam Dragons 1, dan rasanya ia menjadi kandidat kuat untuk kembali masuk nominasi tahun depan.

Multi konflik yang dihadirkan sedikit mengurangi pesona film ini. Dragon 2 memang lebih penuh aksi dan menghibur, namun bertubi-tubinya konflik yang dihadapi oleh Hiccup serta banyaknya karakter menghilangkan kesederhanaan dan kedalaman emosi yang sebelumnya menjadi daya tarik Dragon 1. Deretan kisah yang seharusnya membantu menyusun kerangka emosi justru menjadi bumerang yang mendangkalkan keterikatan penonton pada sosok protagonis. Meskipun begitu, Dragon 2 tetap menjadi animasi istimewa yang berbeda dibandingkan karya DreamWorks lainnya.

Saturday, November 23, 2013

Gravity's Spinoff, Aningaaq. Seven Minutes from Earth to Space (2013)

Gravity jelas salah satu film paling remarkable tahun ini. Bahkan bisa disebut sebagai film terbaik yang rilis di 2013. Saya biasanya bukan fans dari film sci-fi, tapi Gravity jelas film sci-fi paling menarik yang pernah saya tonton. Kombinasi pengolahan skrip yang digabungkan dengan teknik sinematik dan akting yang ciamik, membuat film ini saya sebut sebagai masterpiece dari Alfonso Cuarón (baca review lengkap saya disini).

Lalu beberapa hari lalu saya menemukan artikel mengenai nominasi Academy Awards untuk kategori Live-Action Short, dan salah satu yang diunggulkan adalah Aningaaq, spinoff dari Gravity. Akhirnya baru hari ini saya berkesempatan untuk menyaksikan film ini, dan hasilnya saya merinding.

Aningaaq (written and directed by Jonas Cuarón)


Melihat dari setting film ini yang ada di suatu tempat berselimut salju, tentunya janggal jika film ini berkaitan dengan Gravity yang settingnya di luar angkasa. Tapi rupanya film ini justru punya hubungan erat dengan Gravity. Membuat saya 'ber-aaah-ohhh ria' ketika menyaksikannya. Bagi yang sudah menonton Gravity, jelas harus menyaksikan Aningaaq dan menemukan koneksi menarik antara kedua film ini. 

Satu hal lagi yang membuat saya kagum, bahwa film ini ditulis dan disutradarai oleh Jonas Cuarón, co-writer dari film Gravity itu sendiri.Saya tidak habis pikir bagaimana dia bisa terpikir untuk membuat film ini, sebagai pelengkap dari Gravity

Aningaaq mungkin seperti tujuh menit yang remeh dan tidak penting. Tapi justru film ini punya peran yang begitu besar untuk pada ending Gravity. Hanya tujuh menit yang sederhana dalam universe yang begitu luas dan tak terbatas.