Actually,
kind of embarrassing for me to admit that I never watch this movie until 2013.
Well, I heard about this movie before, but I never know that this movie is
AMAZING. And this movie makes me worship Christopher Nolan as a director.
A
rivalry and obsession. Itulah dua tema penting dalam film ini yang mengobrak-abrik
emosi penonton sepanjang film dan membuat penonton menebak-nebak maksud dan trick yang ada dalam film ini.
Mengambil
setting di London abad ke-19 dan dunia magic sebagai tema, The Prestige
sebenarnya diangkat dari epistolary novel (I will talk about this later) karya
Christian Priest. Pada menit-menit pertama, penonton akan langsung disuguhi teka-teki
dan ketegangan yang berawal dari tewasnya seorang magician ketika tengah
melakukan tricknya, sementara rivalnya yang berada di lokasi kejadian menjadi
tersangka dan diancam hukuman mati.
Satu
hal unik dalam film ini ialah jika biasanya film menggunakan struktur narasi
standar, yaitu maju-mundur, alias bolak-balik ke masa lalu dan masa sekarang,
menurut saya film ini malah memiliki alur maju-mundur dan lebih mundur lagi. Ada
narasi yang bertumpuk dalam ceritanya (and it does remind me with another Nolan’s
work, Inception).
Adalah
Robert Angier (Hugh Jackman) dan Albert Brendon (Christian Bale) dua orang
asisten rendahan dalam pertunjukan sulap yang karena sebuah kecelakaan menjadi
rival abadi yang saling terobsesi satu sama lain. Bagi saya, kedua karakter ini
menunjukan hal yang menarik. Mereka menunjukan keindahan dunia sulap, sekaligus
misteri yang menakutkan dibaliknya. Bahwa di belakang panggung, kehidupan
ternyata tidak segemerlap dan seindah apa yang dilihat penonton ketika tirai
dibuka.
Baik
Angier dan Brendon bukanlah sosok putih atau hitam. Dalam film ini sulit untuk
menentukan siapa protagonis dan siapa yang antagonis. Semuanya abu-abu.
Semuanya berbuat salah. Mungkin itulah yang paling tepat menggambarkan manusia
dan dunia ini, karena toh tidak ada yang benar-benar hitam dan putih. Hanya orang
naïf yang merasa bahwa dunia itu hanya terbagi atas dua warna, dan melupakan ‘abu-abu’
sebagai daerah yang paling banyak didiami oleh manusia di dunia ini.
Menurut
saya, sebuah film yang bagus adalah film yang akan tetap terkenang meskipun
kita sudah sekian lama menontonnya. Bagi saya The Prestige memberikan kesan
itu. Tak perlu aksi dan peralatan canggih ala Batman atau wajah tampan ala Leonardo
DiCaprio (another Nolan’s works) untuk membuat film menjadi sangat memorable.
Cukup buat saja penonton bertanya-tanya, menganalisis dan menebak-nebak di
sepanjang film. Sehingga pada akhirnya penonton akan merasakan kepuasan ketika
tebakannya akan ending film atau penjelasan dari jalan cerita film ini ternyata
tepat. And my guess was right!
Film pertama Nolan yang saya tonton dan luar biasa, langsung nonton memento & following setelah itu Sinopsis dan Jalan Cerita Film
ReplyDeleteIyah, nih jika ada yg jawab pertanyaan ane, ane kasih 25k pulsa all operator.
ReplyDeleteSimak pertanyaannya
-Borden, dia kembar, dimana di antara mereka yg ayah kandung dari jess?
-Jika sudah dapat jawabannya untuk pertanyaan di atas, Siapakah yg menaruh box kaca berisi air, dan seperti yg kalian lihat di film, borden yg membawa lentera, dia berusaha menolong angier, dan terkejut.
Jangan lupa tulis no hp di ujung