Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Saturday, April 8, 2017

Setumpuk Pekerjaan Rumah Untuk Hanung Bramantyo, Catatan Dari Kartini (2017)

Well, I am not sure, how to start this review.
But, let me try.

Offended. Itu perasaan saya setelah selama dua jam menyaksikan film terbaru Hanung Bramantyo, Kartini.

Sejujurnya, bukan kesalahan Hanung, melainkan kesalahan saya karena setuju untuk menyaksikan film ini. Saya tidak familiar dengan karya-karya Hanung, namun karya-karyanya yang selalu identik dengan genre drama populer bukan tipe film favorit saya. 

Dari sekian banyak filmography Hanung, saya sempat menyaksikan beberapa di antaranya. Namun yang berkesan dan cukup membekas adalah Jomblo (2006) dan Get Married (2007). Dua film komedi yang segar di antara banyaknya film horor mesum di tahun-tahun tersebut. 

Penilaian saya terhadap beliau sebagai sutradara film drama populer semakin valid saat ia merilis Habibie & Ainun dan Rudy Habibie. Dua film yang tidak akan pernah saya tonton apapun yang terjadi. Sebab saya tak tega kalau harus menyaksikan sosok idola saya dinterpretasikan hanya berdasarkan perjalanan rumah tangganya saja, padahal beliau punya sederet pencapaian luar biasa dan momentum lain yang lebih penting untuk ditonjolkan ketimbang dramatisasi masa mudanya di Jerman.




Berbicara mengenai Kartini, film ini kabarnya menghabiskan waktu dua tahun untuk riset. Diisi oleh jajaran aktor dan aktris papan atas Indonesia, yang Hanung sebut sengaja ia pilih berdasarkan kepopuleran dan talenta para pemain ini. Kemudian para pemeran dituntut untuk melakukan berbagai latihan - yang adalah hal wajar untuk mendalami peran, guna menghidupkan kembali kisah Kartini.

Adalah Dian Sastrowardoyo yang didaulat menjadi sosok Kartini. Satu-satunya pahlawan wanita Indonesia yang memiliki hari besar. Kartini atau yang dikenal juga dengan nama Raden Ajeng Kartini adalah sosok yang dianggap berperan besar dalam menetapkan fondasi emansipasi wanita di Tanah Air. Anda boleh setuju atau tidak namun itulah yang diakui oleh negara. Sama dengan pemilihan Dian Sastrowardoyo, Anda bisa setuju atau tidak, namun bagi saya keputusan tersebut bukan hal yang tepat, mengingat usia Kartini yang ditampilkan dalam film berkisar saat ia masih belasan tahun sampai akhirnya beliau menikah di awal usia '20-an, yang tentunya memiliki fisik berbeda dengan Dian Sastrowardoyo yang berusia lebih tua. 



Deddy Soetomo sebagai R.M. Adipate Ario Sosrodiningrat, Dian Sastrowardoyo sebagai Kartini, dan Christine Hakim sebagai Ngasirah, ibu kandung Kartini.


Dalam sebuah konferensi pers, Hanung berkata bahwa Kartini merupakan tafsir kekinian tentang perjuangan seorang wanita yang dibelenggu oleh tradisi dan tatakrama di zamannya. Bukan sekadar menunjukan penggambaran hidupnya, tapi film ini juga medium untuk memaparkan pergolakan batinnya dan alasan dari keputusan-keputusan Kartini. Semuanya dibungkus oleh Hanung dalam kemasan yang menurutnya ringan dan populer.

Hasilnya? Hanung sukses membuat film ini benar-benar ringan sampai saya khawatir jangan-jangan setelah ini masyarakat Indonesia malah berpikir Kartini tak ada apa-apanya sebagai pahlawan nasional. Hanung menunjukan bahwa pemikiran dan perilaku Kartini memang jauh lebih maju ketimbang wanita-wanita seumurannya. Namun kemajuan Kartini ditampilkan sebagai privilege yang didapatnya sebagai anak Bupati Jepara, dan hasil kemurahan hati kaum pria di sekelilingnya.

Kartono (Reza Rahadian) kakak Kartini yang kemudian mengenyam pendidikan ke Belanda, yang menyarankan Kartini untuk mulai membaca buku selama dipingit. Ayah kartini, Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat (Deddy Soetomo) yang pada akhirnya luluh dan membolehkan Kartini untuk mencoba mengambil beasiswa. Lalu terakhir di penutup film, berkat kemurahan hati suaminya, Kartini bisa mendirikan sekolah yang menjadi salah satu pencapaian terbesarnya.

Padahal, Hanung bisa sedikit lebih berani mengambil sudut yang berbeda di film ini. Misalnya fokus pada surat-surat Kartini yang dikirimkan pada korespondennya di Belanda,  Stela Zeehandelaar. Surat-surat yang kemidian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, justru adalah rekaman nyata dari pemikiran progresif Kartini, kegundahannya, hingga realita kehidupan kaumnya yang dilihatnya sehari-hari. Mengambil contoh dari Istirahatlah Kata-Kata yang memasukan selipan puisi-puisi Wiji Thukul sebagai bagian dari narasi, bisa menjadi opsi yang baik untuk Kartini.

Akan tetapi elemen film yang membuat saya tersinggung dan merasa diremehkan adalah makeup dan editing. Pertama makeup yang digunakan sangat mengecewakan. Untuk ukuran film nasional hasil garapan sutradara sekelas Hanung Bramantyo dan menampilkan aktris sekaliber Christine Hakim serta Dian Sastrowardoyo, makeup dalam Kartini bisa dikategorikan mengerikan.

(Dok. Legacy Pictures)

Beberapa pemeran pembantu wanita yang adalah orang asing terlihat makeup-nya luntur sehingga  menempel  pada bagian kerah kostum. Tak cuma itu, makeup yang berantakan tersebut juga disorot secara close up dalam beberapa kesempatan. Apakah di antara puluhan kru dan tim yang memproses Kartini tak ada yang cukup waras atau berani mengatakan bahwa keteledoran seperti itu tak bisa diterima? Makeup yang berantakan dan kostum yang terlihat seadanya, terutama yang dikenakan oleh pemeran orang asing, menunjukan adanya ketidakseriusan dalam penggarapan Kartini. Atau para kru yang berada di balik layar tak peduli dan membiarkan penonton film Indonesia mengonsumsi sesuatu yang dibiarkan berantakan… How can you not be offended?

Begitupun dengan aspek editing. Saya pikir tindakan memasukan shoot yang buram karena diambil dengan drone dengan kamera berkemampuan rendah, juga tak layak untuk diterima. Mungkin alasan Hanung adalah untuk memperkaya shoot, namun rasanya keberadaan gambar buram selama beberapa detik tersebut tak krusial untuk jalan cerita, tapi penting untuk menjaga kesempurnaan keseluruhan gambar.

Karakter-karakter yang dimunculkan tampaknya tidak memiliki stand point yang jelas. Seperti Slamet (Denny Sumargo) kakak Kartini, jika di pertengahan film terkesan tidak menyukai Kartini namun di akhir film tiba-tiba ingin melindungi Kartini. Atau kakak laki-laki Kartini lain (saya tidak tahu siapa namanya) yang muncul hanya untuk mengolok-olok Kartini dan menjadi sidekick dari Slamet. Apa perlunya karakter tersebut? Haruskah memasukan pola bullying ala anak SMA dalam film biopic tentang seorang pahlawan?

Kartini bagi saya adalah bukti tambahan yang seharusnya cukup untuk membuat Hanung berhenti sejenak dan memikirkan kembali keputusannya dalam membuat film-film biopik, setelah sebelumnya tak berhasil dengan Soekarno. Tak pantas rasanya kalau kisah dari tokoh-tokoh panutan ini mendapatkan perlakuan yang tak sepenuh hati, dibuat dengan tergesa-gesa, serta terkesan seadanya. Konon, Hanung akan bertanggung jawab untuk menyutradarai adaptasi dari salah satu karya sastra terbaik di Indonesia. Saya harap sebelum itu terjadi, Hanung telah menuntaskan dulu pekerjaan-pekerjaan rumahnya agar tak lagi menghasilkan film berdurasi dua jam yang hanya membuat saya sakit kepala.



Monday, September 7, 2015

A Separation (2011): 'A Fast and Furious' from Iran

I know it’s already to late to talk about this movie. But since I just finished it several days ago, I really want to talk about this movie. Film yang meraih Best Foreign Language Film di ajang Oscar beberapa tahun lalu ini rasanya tepat untuk mengawali kembali aktifnya blog ini.



Menyaksikan A Separation rasanya seperti mengintip kehidupan dua keluarga yang berbeda, dari kelas sosial yang berbeda, dan permasalahan masing-masing, yang saling berbenturan di tengah membentuk jalin konflik yang terhubung dengan kondisi sosial dan aspek religi di Iran.

Tirai pertunjukan dibuka Asghar Farhadi dengan adegan yang kuat. Sepasang suami istri, Nader (Peyman Moadi) dan Simin (Leila Hatami) dengan menggebu-gebu mengajukan tuntutan perceraian mereka. Simin mengatakan ketidakmauan Nader untuk meninggalkan Iran adalah alasannya menceraikan sang suami, bukan karena keburukan tingkah laku. Awalnya Nader dan Simin sepakat untuk pergi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik, terutama untuk anak perempuan mereka yang tengah beranjak remaja, Termeh (Sarina Farhadi). Namun Nader mundur dari rencana tersebut, dengan alasan tidak bisa meninggalkan ayahnya yang menderita Alzheimer.

Adegan pembuka antara Simin dan Nader.


Lewat sepenggal adegan pertama, kita belajar begitu buruknya kondisi di Negara asal sang sutradara. Hingga bisa mengguncang mahligai rumah tangga yang telah terjalin belasan tahun. Adegan demi adegan berlanjut, makin memperjelas gambaran mengenai Iran dengan konteks sosial, ekonomi, budaya, dan juga agama. Tuntutan perceraian yang ditolak membuat Simin memilih meninggalkan Nader dan Termeh. Nader kemudian mempekerjakan Razieh, seorang wanita muslim yang taat, untuk mengurus rumah dan ayahnya. Razieh (Sareh Bayat) sendiri hadir dengan konflik pribadinya. Ia berkutat antara jarak rumahnya yang jauh, kondisinya yang tengah hamil, kerepotan mengurus rumah Nader dan ayahnya yang tua, serta aturan agama yang membatasi ruang gerak perempuan. Namun semua kondisi tersebut terpaksa ditanggung demi uang untuk membantu suaminya.

Hodjat dan Razieh yang membawa konflik baru dalam kehidupan Simin dan Nader.

Membicarakan A Separation tanpa membocorkan plot adalah hal yang cukup sulit.  Farhadi membangun plot begitu padat, tanpa adegan percuma yang sekedar pengisi. Semuanya saling melengkapi sebagai kesatuan yang utuh. Adegan demi adegan, konflik demi konflik saling membangun menghasilkan ekskalasi situasi yang luar biasa cepat. Seminggu setelah perpisahannya dengan Simin, Nader telah berstatus tersangka pembunuhan atas janin di perut Razieh. Kehidupan Razieh sendiri makin kompleks dengan histeria suaminya, Hodjat yang mudah naik darah dan berperilaku senang menyakiti diri sendiri. Empat karakter utama, serta karakter-karakter yang muncul di pinggiran juga tidak dibangun secara instan, dalam durasi yang tidak terlalu panjang, kompleksitas karakter tetap terbangun. Kita mengenal Simin, Nader, Razieh, Hodjat, Termeh, dan sosok lainnya dengan cepat dan baik.

Sulit untuk memahami A Separation dalam sekali pemikiran. Dilihat secara besar, film ini menangkap ketegangan antar kelas di Iran. Bagaimana Simin-Nader dan Razieh-Hodjat mewakili dua kelas berbeda, yang memiliki konflik. Secara individu, kita juga melihat bagaimana keempat persona ini adalah manusia dengan segala kekurangan mereka, karakter yang tidak mungkin kita hujat karena kita dapat merasakan korelasi dengan kehidupan mereka. Tiap karakter membawa keributan dalam kehidupan karakter lainnya. Kekeraskepalaan, harga diri, ketakutan, dan kecemasan, membuat kita tak bisa memojokkan seseorang saja sebagai antagonis yang patut dibenci. Setiap karakter bahkan melakukan kebohongan atau mementingkan diri sendiri. Namun siapa bisa menghujat mereka? Karena di satu sisi kita bisa memahami tiap keputusan yang diambil keempat tokoh utama ini. 

Sosok observan dengan sisi intelegensia yang kentara muncul dari sosok Termeh. Gadis berusia 11 tahun ini menjadi pengamat dalam pertunjukan sirkus orang dewasa. Sesekali ia melontarkan pertanyaan menohok hasil pengamatannya. Membuatnya menjadi sosok terpintar dalam film ini. Lewat matanya yang awas ia mencoba mencari rasionalitas dari tiap hal yang dilihat dan didengarnya.

Menyimpulkan film ini menghasilkan imej akan potret Iran yang coba digambarkan oleh Asghar Farhadi. Menariknya lebih jauh, film ini menampilkan Iran dalam sisi sosial, ekonomi, budaya, dan agama. Serta bagaimana perbedaan gender begitu vital di negara ini. Namun Asghar juga seakan membisikan kita untuk melihat A Separation dalam lingkup yang lebih sempit, yakni saat ia berbicara mengenai hubungan antar manusia dengan segala konfliknya, yang tak mampu kita hujat karena memang begitulah terkadang cara kita hidup di dunia kita. 

Sunday, November 16, 2014

Interstellar (2014): Nolan's Odyssey

Hi, long time no see. Free time is getting harder to get, and every time I try to find some me time, I end up wasting it, just by watching more movie without really thinking and writing about it. So here is my come back.

Banyak hal menarik saat menyaksikan film ini. Pertama, ini adalah kunjungan saya kembali ke bioskop setelah berbulan-bulan memendam hasrat dan melewatkan film demi film. Kedua, ini kali pertama saya menonton bersama teman-teman sekantor. Yay me, for successful attempt to blend in!

So, Interstellar. Film ini telah membangkitkan rasa penasaran seluruh pecinta film bahkan jauh sebelum di rilis. Kenapa? Well, karena sosok Christopher Nolan sebagai salah satu influential director saat ini. Belum lagi kehadiran deretan cast berbakat seperti McConaughey, Hathaway, Chastain dan Michael Caine. Namun yang paling menarik adalah genre film itu sendiri, Sci-fi dengan slogan Go Further. Nolan menjanjikan sebuah perjalanan dramatis menuju destinasi terjauh dibandingkan imajinasi yang berani dimiliki sutradara lain dari genre yang sama. Kombinasi keseluruhan membuat Interstellar menjadi film paling di antisipasi dan ambisius di tahun ini.



Dimulai dengan perkenalan kondisi bumi di masa depan. Semakin tua, bumi menjadi sekarat. Membawa manusia ke ambang akhir peradabannya. Adalah Coop (Matthew McConaughey) mantan astronot yang menjadi petani, selalu berusaha optimis bahwa manusia akan berhasil melewati masa sulit ini. Secara kebetulan Murph (Mackenzie Foy) anak perempuan Coop menemukan pertanda yang mengarahkan mereka pada kantor rahasia NASA. Kenapa rahasia? Manusia sedang kesulitan pangan, semua dana yang ada diarahkan pada upaya untuk menyediakan pangan, bukan pengembangan teknologi atau penjelajahan angkasa luar, karena itu NASA mengembangkan sebuah proyek penyelamatan manusia secara diam-diam. Dipimpin oleh Prof. Brand (Michael Caine), Coop beserta Amelia (Anne Hathaway) dan dua orang astronot lainnya bertanggung jawab dengan nasib umat manusia. Mereka bertugas menemukan planet lain yang bisa dihuni menggantikan bumi.

Bagi Coop perjalanan ini akan semacam kesempatan kedua menjalani impiannya menjelajahi angkasa. Namun disisi lain ia tahu bahwa kepergiannya akan menghancurkan hati Murph dan keluarganya. Dengan pergi ia bisa menyelamatkan bumi, manusia dan keluarganya namun itu berarti ia akan melewatkan bertahun-tahun kehidupan Murph. Pikiran dilematis yang dihadapi oleh Coop inilah yang akan menentukan nasib manusia. Ketika kelangsungan umat manusia berada di tangan empat orang astronot tidak berpengalaman, bahkan belum pernah berada di luar bumi, tentunya menjadi hal absurd untuk sebuah film yang  sangat ambisius.



Interstellar bisa dibagi dalam dua bagian. Pertama adalah bagian awal yang penuh akan drama dan menitikberatkan pada pengenalan karakter dan family issue. Dan bagian ini rasanya bukan bagian favorit saya. Jujur pada genrenya, drama sekadar sebagai tempelan. Kisah kemanusiaan bukan fokus utama, hanya pelengkap cerita. Inilah garis pemisah antara Interstellar dan Gravity, yang justru kental akan life lesson. McConaughey setelah kesuksesannya dalam Dallas Buyers Club, berjuang keras untuk menampilkan sisi kebapakan. Dia berhasil menghadirkan kelembutan khas orang tua dan membuat saya ikut berkaca-kaca saat ia terpisah dengan Murph. Hathaway disisi lain, sama-sama berusaha meskipun tak benar-benar berhasil. Sementara Jessica Chastain sebagai Murph dewasa membantu memperdalam unsur drama. Tapi elemen yang paling hadir dari sosok robot pembantu TARS dengan sense of humor yang sarkastik namun begitu segar, menjadi jeda yang tepat saat saya mulai merasa lelah dengan dahi berkerut memikirkan detail perhitungan perjalanan antar galaksi ini.  

Sementara bagian kedua film adalah pertunjukan utama yang sudah dinantikan. Visualisasi luar biasa terjemahan dari naskah karya Jonathan Nolan. Bukan rahasia bahwa Nolan berkonsultasi dengan Kip Thorne seorang ahli fisika untuk menciptakan detail akurat secara ilmiah tentang penampakan black hole dan perjalanan antar galaksi. Dan hasilnya? Spectacular. The Saturn, the worm hole, the black hole, and tesseract, all of them were superb. Begitu teliti, seakan kita tengah menyaksikan dokumentasi NASA akan penjelajahan antariksa. Sinematografi ‘bersih’ dan angle tidak biasa menunjukan kekuatan dan kebesaran alam semesta sekaligus kekuatan Nolan dalam menerjemahkan sebuah dunia baru ke dalam elemen film.

Film ini tidak cukup kuat menghadirkan drama sarat humanisme, akan kekuatan manusia dalam menghadapi ‘akhirnya’. Kekuatan terbesar –sama dengan film Nolan lainnya, hadir lewat permainan alur, logika dan atraksi visual, hasil daya khayal yang luar biasa. Sebagai penutup Nolan menghadirkan salah satu senjata lainnya, yakni kejutan diluar dugaan penonton. Walaupun tak begitu kuat dalam eksekusi –seakan dipaksakan dan tidak masuk diakal, namun cukup untuk membuat saya ingin memeluk Nolan bersaudara, menyelamatinya atas imajinasi dan ambisinya yang menakjubkan.


Wednesday, May 14, 2014

The Amazing Spider-Man 2 (2014): It's a Sweet Rom-Com

Hello, hello! Hi fellow moviegoers, it has been a long time since my last post (last year, huh?). I’m sorry about the hiatus, but lot of stuff happen in my life and I need some time to make things in order again.

And now back to business. The last movie I’ve watch is The Amazing Spiderman: Rise of Electro or better known as The Amazing Spider-Man 2.



Kesuksesan film pertamanya, The Amazing Spider-Man (2012) membuat sekuel yang kembali dikomando Marc Webb ini begitu di nanti. Belum lagi spoiler akan kemunculan karakter antagonis Green Goblin, Electro dan Rhino membuat para penggemar komik Marvel begitu antusias dan membuat sekuel ini sebagai salah satu film paling ditunggu di 2014.

And the result was? An overplotting and messy superhero movie. Alex Kutrzman dan Roberto Orci sebagai penulis gagal meramu scenario yang tersusun rapi. Subplot-subplot saling tumpang tindih dan terlalu memaksa sehingga karakter terasa tidak matang. Sepertinya Marc Webb terlalu tergesa-gesa memperkenalkan semua musuh legendaris Spiderman demi menyiapkan kemunculan Sinister Six di film ketiga nanti. Karakter musuh dalam film kali ini sama konyolnya dengan The Lizard (he wants to turned everyone in NYC into lizard? Like seriously?!) Dan love-turn-to-hate yang dialami oleh Electro kepada Spiderman (James Foxx) terasa palsu. He mad at Spiderman because he found him as selfish bastard, duh.

Sementara itu Dane DeHaan sebagai Harry Osborn aka Green Goblin muncul mencuri perhatian dengan penampilan flamboyan nan sophisticated, like he was born to play as villain. Namun obsesinya akan darah Spiderman as weird as The Lizard stuff. It was boring. It’s felt like Webb just thrown every villain in Spiderman’s comic book.  Subplot lain yang terbuang sia-sia adalah rahasia ayah Peter kenapa ia meninggalkan anak tunggalnya. Peter figured out about the secret subway station, and then so what? Nothing happens. Except may be Webb try to save it for the last movie.


So sweeeeeeeet.

Kehancuran film ini terselamatkan oleh kekuatan cinta (yes, it’s true) antara Andrew Garfield dan Emma Stone. Berperan sebagai sepasang kekasih di depan layar, Peter Parker dan Gwen Stacy, chemistry antara off-screen lover ini begitu kuat. Disini Webb menunjukan kualitas penyutradaraan seperti dalam (500) Days of Summer yang membuat namanya melejit. Akting Stone membuktikan dirinya sebagai salah satu Hollywood it-girl. She was stunning and brilliantly beautiful. Seeing Gwen and Peter makes you blushing, heartbroken and cheers when they back together. Then I wish they were in rom-com movie without web-slinging superhero. Yeah, make it happen, Hollywood, they deserve The Notebook-kind movie!!

Monday, November 11, 2013

Third Star (2010) : A Fun Camping Trip

“The sickness is mine but the tragedy is theirs” –James



Membuat film tentang orang yang sekarat bukanlah hal yang mudah. Kalau tidak berhati-hati, maka film akan menjadi over melodramatic, berisi orang-orang berlinangan air mata dan perpisahan yang cheesy. Jenis film yang saya hindari. Namun berbeda dengan Third Star, yes it still tear-jerker movie, tapi setidaknya film ini tidak masuk dalam kategori menye-menye yang membuat saya geli ketika menyaksikannya.

Third Star is a feature film debut by Hattie Dalton, Brits director who was once winning a BAFTA award. She collected the most promising young Brits actors for played as four best friends in Third Star. As a simple explanation, Third Star is a movie about camping trip, but it wasn’t an ordinary camping trip. It was a last wish of James Kimberly Griffith (Benedict Cumberbatch) who terminally ill because of cancer. He want to escape from ‘his pitying mob’ a.k.a his family, because they – and also himself – know that he can’t make any longer because of the illness. So he summoned his best friends to accompanied him on a trip into Barafundle Bay, James most favorite place in the world. Davy (Tom Burke), unemployment who dedicated his time to take care of James. Bill (Adam Robertson), a fun-loving bloke who got into problematic relationship and it sucked the live out of him. And the last is Miles (J.J Feild), James closest friend, who had kept away from him when he got sick.

It was a fun trip. They shared dirty jokes and laughed about it. They also were fooling around acted like children. Dalton menampilkan perjalanan ini dengan begitu drama-ish, with soft colors, sun-kissed and blurred vision. Nothing extraordinary. Di pertengahan film, lack of experience dari sutradara mulai terasa. Adegan demi adegan terkesan lepas tidak terarah. Adegan yang seharusnya menjadi metafora dan dilengkapi karakter tambahan justru terkesan pointless. Tapi kekurangan itu tertolong dengan dialog cerdas serta chemistry yang meyakinkan dari keempat aktor muda tersebut.

Miles (Feild), Bill (Robertson), James (Cumberbatch), Davy (Burke)


Cumberbatch was the star of all four. James wasn’t an optimist ill person. He becomes egomaniac who does tend to speak harshly with his friends. His bitterness comes along with the feeling when he realized that his life become so meaningless with so much pain. He feel disappointed with his friends, because he thought they weren’t living the life to the fullest. He said, “I’d take any one of your pointless consumer-f*cker lives.” Yes, Cumberbatch got all the clever lines in the movie. My favorite line of his is, “All those daydreams become fantasies rather than possibilities.” Cumberbatch really change from manipulative-space-terrorize in Star Trek into sick-person-with-sharp-tongue.

Selain Cumberbatch, Burke juga memberikan acting yang menarik. Davy adalah figur yang memegang tanggung jawab disini. Ia tidak pernah pergi dari sisi James. His caretaker position was well played. He was the one who worried about the tent when it burned because of the fireworks, and about the food to make sure that James could go through the trip. He holds himself back with all the doofus around him. He had to watch James and his two friends so they could reach the bay safe and sound. But, with his ‘motherhood’ comes funny things, like the lines he said after the tent got burned and they had to sleep in one tent. Davy said, “I got my knife with me, so if one of you start going ‘Brokeback’, I’ll start going ‘Rambo’. Hilarious.

Dalton mampu menyeimbangkan aspek komedi lewat dialog dan perilaku kekanak-kanakan keempat karakter, dengan unsur drama yang berasal kondisi James dan kehidupan yang dialami ketiga sahabatnya. Cara Dalton menampilkan persabahatan keempat karakter dalam film ini menarik. Davy, Miles dan Bill berkali-kali harus menjadi sasaran sindiran James. Meskipun ketiganya muak pada James, tapi pada akhirnya mereka tetap bisa tertawa bersama, tanpa harus prosesi permintaan maaf yang chessy dan unmanly.


Lepasnya fokus pada pertengahan film terbayar 20 menit menjelang akhir film. James akhirnya menjelaskan maksud dari camping trip tersebut. Permintaan terakhir James kepada ketiga temannya jauh lebih besar dari sekedar menemaninya melihat pantai. James menginginkan kesempatan terakhir untuk merasakan perjuangan mengatasi rasa takut. Mungkin beberapa orang akan merasa akhir film ini menyalahi moral, tapi itu adalah salah satu adegan ending film yang menarik. It was probably unlikeable but it was served in modest way, not too much talking and arguing. Simple but intense. Some people might see the ending as a tragedy but if you see from James’ is just his way to win his life back. It was his way to winning over something, like illness.


ps: another favorite lines from Third Star,

"So I raise a morphine toast to you. And, should you remember that it's the anniversary of my birth, remember that you were loved by me and you made my life a happy one. And there's no tragedy in that." -James

Thursday, October 10, 2013

Gravity (2013) : Simplicity and Masterpiece



It’s like ballet performance in space. 13 menit adegan pembuka dalam uninterrupted shot yang langsung membawa kita ke angkasa luar, dengan penampilan bumi di bawah kita, langit gelap yang bertabur bintang, dan suasana hening. Lantas perlahan terdengar suara percakapan para astronot dengan Houston (pusat kendali NASA). Dr Ryan Stone (Sandra Bullock), Matt Kowalski (George Clooney) dan Shariff (Paul Sharma), ketiganya melayang dan berputar-putar di angkasa luas.

There is some kind motion sickness feeling while I watching the opening scene. I see the shuttle space moving, the earth rotate and also the astronauts do spinning around. I feel little bit upside down sensation, just like when you are in some kind of rides at amusement park. I feel like floating in the space, like the astronauts.

Gravity merupakan film dengan setting antariksa, tanpa monster, tanpa aksi pistol laser atau teknologi masa depan. Film ini memiliki plot yang sederhana (and predictable). Tapi dengan tangan dingin Alfonso Cuarón, cerita sederhana itu mampu menjadikan dirinya sebagai salah satu kandidat kuat untuk masuk ke nominasi Best Director Academy Awards tahun depan.

Absennya teknologi futuristik dan aksi bombastis tak membuat film ini kekurangan gereget. Dengan persiapan dan pengerjaan yang begitu tekun (empat tahun pengembangan dan lebih dari satu tahun di post-production), film ini justru begitu kuat, intense dan thrilling. Perpaduan skrip yang matang, sinematografi yang cantik dan sound yang tepat membuat Gravity menjadi tontonan yang lebih dari memuaskan.

Sedikit cerita tentang pembuatan film ini. Sejak awal, Alfonso Cuarón memang menginginkan film ini bercerita tentang hal yang sederhana, dimana penonton bisa merasakan sebagai sebuah kenyataan. Bersama dengan sinematografer, Emmanuel Lubezki (The Tree of Life), Cuarón membangun film ini perlahan-lahan selama empat tahun. Gravity nyaris tidak bisa dibuat, karena teknologi yang ada tidak mampu mewujudkan visi Cuarón dan Lubezki, sementara budget yang diberikan pun tak terlalu besar. Ditengah ketidakpastian, Cuaron, Lubezki dan tim tetap bekerja menyusun film ini dengan sangat detail. Every shot, every angle, every lighting scenario, even every second had to be preordained. They even tested all technologies that existed, to look if there is something which could use in this movie. But in the end, they invented the technology.

I watched Gravity on IMAX 3D. It was amazing experience. I ducked when I saw some debris moving fast toward me. But the sound and silences are something! Hanya dengan menggunakan kombinasi suara dan keheningan mendadak, Cuarón mampu menciptakan ketegangan. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika kapsul penyelamat yang dinaiki Stone terbuka tiba-tiba di angkasa, lalu mendadak hening, seakan semua ikut menanti apa yang terjadi dengan Stone. I even hold my breath while watching it.

Sandra Bullock as dr Ryan Stone


Selain memang unsur teknis yang luar biasa, peran Bullock dan Clooney juga menyempurnakan film ini. Sebagai veteran astronaut, Clooney mebawakan karakter Kowalski penuh pesona. He is charming, comfortable and very experienced in life and space. Tapi, spotlight dalam Gravity adalah Sandra Bullock. Meskipun ia adalah aktris cadangan (pilihan ketiga setelah Angelina Jolie dan Natalie Portman), justru Bullock  yang paling tepat untuk peran ini. Bullock menampilkan performa terbaiknya dalam Gravity, yang menurut saya pantas diganjar minimal nominasi Academy Awards mendatang. She has the charm and intelligence to bring the character. As if everything that she said or do in the movie are perfectly fit and giving the touch of midas. Dalam film ini Bullock banyak melakukan monolog, yang justru berperan besar dalam memberikan unsur dramatis dalam film.


Ada sedikit sensasi after-Life of Pi dalam Gravity. Ada selipan pesan moral mengenai life and nothingness. Tapi pesan moral ini hanya jadi pelengkap paket yang disajikan film ini. Gravity adalah sebuah masterpiece, memadukan unsur teknis yang canggih dengan skrip yang begitu well-written. Hasil ketekunan dan kengototan Alfonso Cuarón ini menjadi film yang sederhana sekaligus luar biasa megah. 

Monday, August 26, 2013

What Maisie Knew (2012) : Yes, What She Knew Exactly?

Karakter anak-anak dalam film biasanya mudah ditebak. Seperti buku yang terbuka, mereka mudah dibaca. Tapi tidak dengan sosok dalam film What Maisie Knew. Saya terus bertanya-tanya tentang gadis kecil ini sepanjang film.

(photo taken from here)

Diangkat dari novel berjudul sama karya Henry James, What Maisie Knew sebenarnya adalah film yang ditujukan pada khalayak dewasa (atau remaja) tapi mengambil sudut pandang anak kecil. Uniknya novel yang menjadi inspirasi film ini terbit lebih dari 100 tahun lalu di Inggris, pada era dimana perceraian adalah hal yang masih kontroversial. Sedangkan sutradara David Siegel dan Scott McGehee membawanya ke setting modern di Kota New York.

Sejak awal film, kita akan tahu bahwa Maisie (Onata Aprile) dicintai oleh orangtuanya, sebaliknya Maisie juga mencintai keduanya. Tetapi Susanna (Julianne Moore) dan Beale (Steve Coogan), orang tua Maisie, memiliki hubungan yang buruk. Keduanya tidak bisa berhenti bertengkar, dan bahkan tak segan mengumpat di depan anak mereka. Maisie menyaksikan dan mendengarkan banyak perdebatan diantara keduanya. Ia biasanya akan mengawasi orang tuanya di sudut ruangan atau di balik jendela, atau sekedar mendengarkan suara ayah ibunya. Ketika keduanya akhirnya bercerai, Maisie harus tinggal di dua tempat, masing-masing 10 hari di tempat ibu dan ayahnya.

Susanna adalah seorang middle-age-rocker yang tengah berusaha kembali ke panggung. Diperankan Julianne Moore, Susanna adalah punya pesona yang menonjol di tiap adegannya. Dengan penuh kasih sayang ia menghujani anaknya dengan ciuman, menunjukan betapa ia menyayangi anaknya, sekaligus seakan itu bisa menebus kesalahannya pada sang anak. Sedangkan Beale berprofesi sebagai art dealer yang sibuk bukan main dan sering bepergian tanpa jadwal yang pasti. Coogan’s Beale menjalani kehidupannya dengan humoris. Ia menjanjikan berbagai hal pada Maisie sekaligus melimpahinya dengan banyak mainan bagus, tapi ia seakan canggung berada dekat dengan anaknya. Sisi humornya seperti kedok untuk menunjukan bahwa ia bingung ketika berhadapan dengan anaknya sendiri.

Karena kesibukan keduanya, mereka memilih untuk menikah lagi agar mendapat bantuan dalam mengasuh Maisie. Susanna menikahi Lincoln (Alexander Skarsgard), a STUDLY bartender. Beale menikah dengan Margo, Scottish Maise’s ex-nanny (Joanna Vanderham). Margo sudah sangat dekat dengan Maisie, sehingga rasanya ia satu-satunya orang dewasa yang benar-benar mengurus Maisie. Sementara Lincoln, sebagai orang yang baru dikenal Maisie, justru berhasil mengambil hati Maisie dengan cepat. Maisie benar-benar menyukai Lincoln. “I love him,” that’s what she said.  



Pasca perceraian, justru Maisie malah makin sering terlantar. She will be tossed back and forth to her mom and daddy. Ia terpaksa menunggu berjam-jam untuk dijemput sepulang sekolah. Atau duduk di lobby apartemen ibunya menunggu Margo dan Beale menjemputnya. Bahkan harus menunggu di bar di malam hari sembari menunggu Lincoln selesai bekerja. Melihat Maisie yang ‘unintentionally’ abandoned oleh orangtuanya membuat bertanya-tanya kenapa Maisie sama sekali tidak mengeluh, menangis atau berteriak meminta perhatian.

Walaupun sisi emosional Maisie tidak tampak, tapi jelas ia paham ketika orang lain tengah sedih. Saat ibunya berkeluh kesah padanya, Maisie akan menenangkannya. Atau ketika Margo menangis karena hubungannya dengan Beale berantakan, Maisie akan memeluknya. Seakan ia paham betul apa yang dibutuhkan oleh orang yang sedang bersedih. Hal ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana ia bisa memahami perilaku seperti.

Setengah durasi film berlalu, saya benar-benar berharap seseorang menyelamatkan Maisie dari mimpi buruk masa kecil ini. Pada akhirnya Lincoln dan Margo, orang tua tiri Maisie-lah yang menjadi tempatnya menemukan keluarga. Lincoln dan Margo, yang sama-sama frustasi karena merasa digunakan oleh Susanna dan Beale menjadi dekat, dan keduanya juga sama-sama peduli pada Maisie. Seperti keluarga, ketiganya menghabiskan waktu bersama. Hal yang tak pernah dilakukan Maisie bersama orang tua kandungnya.



Karakter Maisie memang jadi fokus dalam film dan Onata Aprile, gadis kecil yang memerankannya tampil dengan sangat baik. Tak banyak dialog, tapi ekspresi dan gesture nya menunjukan sisi kanak-kanak yang membuat kita bersimpati padanya. Ekspresi wajahnya yang sedang sedih atau ketakutan sembari melengkungkan bibir ke bawah, membuat siapapun yang melihatnya ikut menahan tangis. Dan ketika ia sedang mengamati tingkah polah orang dewasa di sekelilingnya, mata besarnya tampak awas sekaligus tanpa emosi, membuat kita jadi bertanya-tanya apa yang ia pikirkan.

Sepanjang film selama 98 menit, kita ikut melihat apa yang Maisie lihat. Dengan menaruh kamera setinggi mata anak-anak, Siegel dan McGehee mengajak penontonnya ikut mengamati sebagaimana Maisie memperhatikan orang dewasa di sekelilingnya. Selain itu kita berkali-kali menyaksikan heartbreaking moment, ketika Maisie harus jadi korban keegoisan orangtuanya. Dari semua hal yang dilihat dan dialami Maisie, kita sama sekali tidak memiliki gambaran apa yang sebenarnya Maisie tahu tentang permasalahan di sekelilingnya, atau apakah ia memahami perceraian orangtuanya, dan yang terpenting sebenarnya bagaimanakah perasaannya. Kita bisa menduga bahwa Maisie mungkin emotionally incapable, atau sebenarnya ia adalah pengamat yang baik. Satu hal yang pasti What Maisie Knew memberi ruang bagi penonton untuk membayangkan sejauh apa pemahaman dan bagaimana perasaan Maisie.