Showing posts with label rom-com. Show all posts
Showing posts with label rom-com. Show all posts

Sunday, February 28, 2016

A Copy of My Mind (2015): Modesty Wins It All

Saya sudah tidak bisa mengingat kapan terakhir saya menyaksikan film Indonesia di bioskop. Alasannya? Sejujurnya saya seringkali merasa rugi menyaksikan film Indonesia di bioskop kalau dalam beberapa bulan kemudian saya bisa dengan mudah dan murah menyaksikannya di tv. Namun kali ini berbeda, selain karena tugas kantor, saya juga tertarik menyaksikan film yang sudah berkelana ke beberapa festival film internasional, plus, Joko Anwar sang sutradara sendiri menjamin film ini tidak akan muncul di televisi. Jadilah saya menonton A Copy of My Mind.



Saat press conference pemutaran perdana film ini, seseorang pemain dalam film teresebut berkomentar bahwa film ini adalah film Joko yang paling jujur. Sebagai seseorang yang tak terlalu mengetahui semua karya Joko, saya tidak dapat  berkomentar banyak akan pendapat tersebut. Satu hal yang belas, adalah bahwa dalam A Copy of My Mind, Joko berusaha keras memasukan semua unsur Jakarta dan Indonesia yang dikenalnya, ke dalam film. Penonton diharapkan bisa merasakan Indonesia, dan mengecap Jakarta yang dikenalnya. Sehingga seharusnya penonton bisa merasakan kedekatan dengan karakter dan kisah yang dibangun dalam film.

Saya merasakan kedekatan itu. Hanya saja bukan karena setting atau konflik, yang membuat perasaan familiar itu muncul. Saya merasa dekat dengan film ini verkat kesederhanaan kedua karakter utama yang diperankan oleh Chicco Jerikho dan Tara Basro. Sederhana dan cenderung dangkal, baik Chicco dan Tara memikat saya lewat karakter yang mereka mainkan. Interaksi keduanya begitu meyakinkan. Saling melontarkan kalimat menggoda. Kadang tak lengkap dan terkesan bodoh, namun saya merasa akrab dengan Sari dan Alek. Layaknya teman atau tetangga yang sering kita dengarkan celotehannya.

A Copy of My Mind bercerita tentang hubungan sepasang manusia, Sari dan Alek, yang berasal dari kalangan bawah di Jakarta. Terhimpit diantara rutinitas  membosankan di tengah carut marut ibu kota. Asing namun begitu dekat dengan berbagai konflik yang bisa jadi beririsan dengan nasib mereka. Joko berusaha menghadirkan potret romantis dalam jagat yang besar. Politik dan Indonesia. Joko menyisipkan kehebohan pemilu 2014. Kasus korupsi dan mafia suap, dua kata yang telah biasa ditelan oleh para penonton. Namun dalam film ini jagat besar itu rupanya tak terlalu berpengaruh dalam kehidupan yang begitu kecil. 


Disini saya melihat upaya Joko menciptakan kedua tokoh protagonisnya sejujur dan sesederhana mungkin. Sebagaimana yang mungkin ia tangkap dari kebanyakan manusia Indonesia. Sari dan Alek yang kemudian terjebak dalam masalah besar. Lebih besar dari kehidupan mereka. Namun hal tersebut rupanya tak membawa begitu banyak perbedaan. Sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya, terkadang konflik besar tersebut tak ubahnya menjadi colekan kecil dalam alur hidup mereka. Sedikit mengubah ritme. Membuat cemas namun tak lama itu akan menjadi memori. Sementara kita kembali ke rutinitas kehidupan kita sebagaimana mestinya. Seakan tak ada yang terjadi. 

Pada akhirnya saya merasa harus setuju dengan pendapat di awal tulisan ini, bahwa A Copy of My Mind merupakan sebuah film yang jujur. Setidaknya kejujuran searing sutradara dalam menghadirkan kisah mengenai Jakarta dan manusia Indonesia-khususnya-Jakarta versinya. Ditambah dengan kesederhanaan yang memikat dari kedua karakter ciptaannya adalah dua poin unggul bagi seorang Joko Anwar. 

Wednesday, May 14, 2014

The Amazing Spider-Man 2 (2014): It's a Sweet Rom-Com

Hello, hello! Hi fellow moviegoers, it has been a long time since my last post (last year, huh?). I’m sorry about the hiatus, but lot of stuff happen in my life and I need some time to make things in order again.

And now back to business. The last movie I’ve watch is The Amazing Spiderman: Rise of Electro or better known as The Amazing Spider-Man 2.



Kesuksesan film pertamanya, The Amazing Spider-Man (2012) membuat sekuel yang kembali dikomando Marc Webb ini begitu di nanti. Belum lagi spoiler akan kemunculan karakter antagonis Green Goblin, Electro dan Rhino membuat para penggemar komik Marvel begitu antusias dan membuat sekuel ini sebagai salah satu film paling ditunggu di 2014.

And the result was? An overplotting and messy superhero movie. Alex Kutrzman dan Roberto Orci sebagai penulis gagal meramu scenario yang tersusun rapi. Subplot-subplot saling tumpang tindih dan terlalu memaksa sehingga karakter terasa tidak matang. Sepertinya Marc Webb terlalu tergesa-gesa memperkenalkan semua musuh legendaris Spiderman demi menyiapkan kemunculan Sinister Six di film ketiga nanti. Karakter musuh dalam film kali ini sama konyolnya dengan The Lizard (he wants to turned everyone in NYC into lizard? Like seriously?!) Dan love-turn-to-hate yang dialami oleh Electro kepada Spiderman (James Foxx) terasa palsu. He mad at Spiderman because he found him as selfish bastard, duh.

Sementara itu Dane DeHaan sebagai Harry Osborn aka Green Goblin muncul mencuri perhatian dengan penampilan flamboyan nan sophisticated, like he was born to play as villain. Namun obsesinya akan darah Spiderman as weird as The Lizard stuff. It was boring. It’s felt like Webb just thrown every villain in Spiderman’s comic book.  Subplot lain yang terbuang sia-sia adalah rahasia ayah Peter kenapa ia meninggalkan anak tunggalnya. Peter figured out about the secret subway station, and then so what? Nothing happens. Except may be Webb try to save it for the last movie.


So sweeeeeeeet.

Kehancuran film ini terselamatkan oleh kekuatan cinta (yes, it’s true) antara Andrew Garfield dan Emma Stone. Berperan sebagai sepasang kekasih di depan layar, Peter Parker dan Gwen Stacy, chemistry antara off-screen lover ini begitu kuat. Disini Webb menunjukan kualitas penyutradaraan seperti dalam (500) Days of Summer yang membuat namanya melejit. Akting Stone membuktikan dirinya sebagai salah satu Hollywood it-girl. She was stunning and brilliantly beautiful. Seeing Gwen and Peter makes you blushing, heartbroken and cheers when they back together. Then I wish they were in rom-com movie without web-slinging superhero. Yeah, make it happen, Hollywood, they deserve The Notebook-kind movie!!

Wednesday, April 17, 2013

You've Got Mail (1998); Classy Love Story, Books and Starbucks


After all this time just read about the movie title in Pop Icon Quiz, finally I had the chance to watch the dynamic duo of Tom Hanks and Meg Ryan in their third rom-com, after Joe Versus the Volcano (1990) and Sleepless in Seattle (1993).



Laiknya Sleepless in Seattle, You’ve Got Mail juga disutradarai oleh Nora Ephron. Film ini merupakan contoh tepat untuk kisah cinta klasik yang manis tapi tidak cheesy, dan bukan jenis film romantis yang membuat audiens tersipu karena seks atau jenis intimacy lainnya. Film ini mengisahkan hubungan Joe Fox (Tom Hanks) dan Kathleen Kelly (Meg Ryan), yang tampaknya memang meant for each other, tapi terus dipisahkan hal-hal remeh yang pastinya membuat penonton geregetan.

Film ini berdurasi cukup panjang jika dibandingkan dengan rom-com yang ada belakangan ini, selain itu absennya adegan ‘panas’ pemainnya, membuat film ini bisa menjadi kandidat utama sebagai film membosankan. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Menonton film ini membuat saya kangen dengan rom-com yang ‘cerdas’ dalam arti kata tidak melulu jual paha-dada aktris wanita atau ketampanan aktornya, tapi menjual dialog (yang benar-benar) lucu, aksi comical dan sedikit sinisme yang menurut saya memberi tambahan humor. Dan semua unsur tadi ada dalam film ini, that made me fall for this movie.

Kalau kalian hanya terbiasa menyaksikan Tom Hanks di trilogi (The Lost Symbol is coming soon) Dan Brown, Saving Private Ryan, Toy Story atau Larry Crowne (Tom Hanks lost his rom-com hero’s charm in this one) rasanya tidak akan percaya  kalau Tom Hanks was such a king of rom-com back then. He just fit into the character that made him as a hero and Meg Ryan as a heroine. They look cute together, and people will wait for the first kiss until the very last scene of the two-hours movie.

Beside the funny dialogs and comical interaction between Hanks and Ryan, there are still one or two interesting things in the movie that made me really want to spend couple hours to work on this review. Kemunculan Starbucks adalah salah satu hal menarik itu. Film ini kira-kira dibuat pada tahun 1997-1998 disaat dimana sesuatu seperti Starbucks tentunya masih jauh diawang-awang masyarakat Indonesia, tapi rupanya disana budaya coffee store itu sudah sangat kuat, dan sekaligus menyebarluaskan budaya Yuppie atau Young Urban Professional, pola kehidupan kaum muda yang saat ini juga tengah hip di Jakarta, namun toh sudah jauh lebih dulu menyebar di AS tahun 90’an. Lucu rasanya melihat bagaimana film di tahun 90an terasa masih punya korelasi dengan saat ini hanya karena si Starbucks.

Hal lain yang menarik ialah The Evil Superstore vs The Eden of Child Book Store. Joe Fox merupakan multimilioner pemilik Fox Book Store, toko buku raksasa dan ancaman bagi bisnis The Shop Around Corner, toko buku anak-anak milik Kathleen. Superstore Fox Books jenis toko buku super lengkap dengan buku-buku diskon dan menjual legal addictive stimulant aka coffee, sementara toko buku milik Kathleen adalah toko buku kecil yang romantis (they have a cute display window) dan mengedepankan kedekatan personal untuk membuat konsumen menjadi loyal.

I don’t know if Ephron the screenwriter intentionally put a capitalism satire on it, but it caught my attention (or I just simply over-thinking). Betapa kapitalisme merubah hal-hal personal yang ditawarkan oleh toko Kathleen, seperti kedekatan dengan pemilik, bantuan untuk memilih buku hingga pertunjukan storytelling lady untuk anak-anak, digantikan dengan tawaran kenikmatan secangkir cappuccino. Dan akhirnya keramahan dari sesama manusia kalah dengan hangatnya cappuccino dan murahnya harga sebuah buku.

Back to the movie, there were one or two scenes were miss and unimportant. For example, the scene were Birdie (Jane Stapleton), the old bookkeeper told a story about her love life long way back then, which is nothing to do with the whole story. But those dull things are forgiven with the funny and enchanting romantic story that Ephron brought to us. And also You’ve Got Mail has more than two good lines, like the lines that use by Joe Fox in the-almost-end-scene. He says;

Well... if I hadn't been Fox Books and you hadn't been The Shop Around the Corner, and you and I had just, well, met I would have asked for your number, and I wouldn't have been able to wait twenty-four hours before calling you and saying, "Hey, how about... oh, how about some coffee or, you know, drinks or dinner or a movie... for as long as we both shall live?" –Joe Fox to Kathleen Kelly.