Monday, December 28, 2015

The Danish Girl: The Messed-up Storytelling

Queer cinema always fascinates me. Terlebih ketika film produksi Hollywood yang mencoba melangkah ke area yang selalu sulit untuk diterjemahkan. Menarik untuk melihat bagaimana interpretasi seorang sutradara dan rumah produksi Hollywood terhadap isu queer. Untuk kalian yang tidak tahu apa itu queer, istilah ini merupakan istilah awam yang biasa ditujukan untuk menyebutkan kelompok gay atau transgender. Namun sebenarnya, istilah queer tidak terbatas pada itu saja, melainkan dapat digunakan pada semua spektrum seksualitas, di luar heteroseksual. 



Sekedar informasi, The Danish Girl sendiri termasuk dalam kategori Queer Cinema, yang antara lain didefinisikan dengan tiga kriteria yang antara lain; dibuat oleh seorang queer, mengangkat tema yang berkaitan dengan isu queer, atau diceritakan dari sudut pandang queer. The Danish Girl mengangkat isu queer dengan mengisahkan kehidupan Einar Wegener, seorang pelukis populer yang menjadi orang pertama yang melakukan operasi pergantian kelamin, yang termasuk dalan kategori queer. 

Film ini merupakan karya sutradara Tom Hooper yang telah banyak mencetak prestasi lewat karya sebelumnya yakni The King’s Speech dan Les Miserables. Lewat The Danish Girl, Tom menghidupkan kembali momentum besar dari sejarah transgender. Lili Elbe adalah wanita pertama yang menjalani operasi perubahan kelamin dan kemudian identitasnya juga berubah secara hukum. Sebagai catatan, film ini tidak seratus persen menjejak pada realitas secara keseluruhan. Film ini hasil adaptasi dari novel yang terinspirasi dari kehidupan Einar Wegener. Jadi lebih tepat jika film ini disebut ‘terinspirasi dari kisah nyata’.

Kisah dimulai dengan sekilas hubungan Einar (Eddie Redmayne) dan istrinya Gerda Wegener (Alicia Vikander). Hubungan keduanya harmonis, meskipun sama-sama pelukis, kehidupan mereka tampak bahagia, penuh canda, dan kasih sayang. Gerda adalah sosok wanita berjiwa bebas dengan opini yang kuat. Ia menyeimbangkan Einar yang lebih pendiam, senang menjadi pengamat, dan memuja Gerda sepenuh hati.

Eddie Redmayne sebagai Lili Elbe/Einar Wegener

Transformasi Einar dimulai ketika Gerda memintanya menjadi model untuk lukisan ballerina yang tengah dibuatnya. Mengenakan stocking dan sepatu berhak, serta memegang baju wanita, Einar seakan menemukan sisi dirinya yang lain. Dari momen ini semuanya berlanjut, Einar kemudian mengikuti permainan Gerda, berpura-pura menjadi wanita untuk menemani Gerda ke sebuah pesta. Secara total pasangan ini menyiapkan kamuflase, tanpa mereka tahu bahwa ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidup mereka.

Sosok Lili pun lahir untuk pertama kalinya. Mendebarkan sekaligus menyenangkan bagi Einar. Konflik muncul saat Lili terlalu jauh mengikuti instingnya dan terpikat pada Henrik (Ben Wishaw). Gerda pun mulai melihat suaminya berubah. Peristiwa itu membuatnya tidak bisa kembali utuh menjadi suami Gerda. Lili semakin nyata, menenggelamkan Einar.

Eddie Redmayne adalah aktor yang luar biasa. Ia meraih Oscar, Bafta, dan Golden Globe, serta sederet penghargaan lainnya berkat perannya dalam The Theory of Everything. Berbeda dengan tantangan fisik ketika ia bermain sebagai Stephen Hawking, kali ini ia ditantang untuk menunjukan perubahan gender. Tak kasat mata tapi harus terkesan nyata. Transformasi Lili bukan sekedar urusan makeup atau gerakan gemulai. Eddie harus menjadi transparan, membiarkan audiens yang mayoritas cisgender bersimpati padanya. Terhadap konflik batinnya. Sayangnya visi tidak berhasil. Eddie hanya semata-mata memanfaatkan gestur dan raut wajah tanpa betul-betul menyampaikan apa rasanya menjadi seorang Lili.

Alicia Vikander sebagai Gerda Wegener

Mungkin kekurangan ada pada interpretasi filmnya. The Danish Girl seharusnya bercerita tentang Lili Elbe, wanita yang menemukan jati dirinya dibalik ‘kesalahan’ fisiknya. Namun film ini justru membiarkan Gerda mengambil posisi utama terlalu banyak. Kemelut Gerda sebagai sosok yang kehilangan suami namun tetap menjadi sahabat yang baik, diperlihatkan begitu nyata dan kuat oleh Alicia Vikander. Memang posisi Alicia jauh lebih mudah. Siapapun akan bersimpati pada sosok heroine yang harus mengorbankan dirinya demi kebahagiaan orang lain, bukan?

Permasalahan semakin nyata ketika menyadari screenplay karya Lucinda Coxon gagal menampilkan semangat dari sosok Lili Elbe. Justru malah terperangkap dalam drama heteroseksual yang bahkan buat sosok utama. Extreme close-up khas Tom yang mungkin berhasil di Les Miserables, justru kali ini tak lebih dari sekedar dramatisasi yang mengganggu. Membesar-besarkan air mata, justru melupakan hal terpenting yakni semangat Lili Elbe untuk bebas menjadi dirinya sendiri. Menentukan nasibnya sendiri.

The Danish Girl jelas masuk dalam deretan queer cinema jika merujuk pada karakteristik yang ada, namun ia adalah anomali. Ia diangkat dari novel yang tidak sepenuhnya menceritakan kebenaran, dan kisahnya juga semakin terpecah ketika harus diadaptasi lewat visi Hollywood. Hanya menyentuh permukaan dan bermain pada identitas, tanpa benar-benar fokus pada kisah aslinya. Pada akhirnya The Danish Girl masuk dalam jajaran film Hollywood lainnya yang hanya mengusung sensasionalitas dari tema transgender untuk meraih penonton. So it’s another missed opportunity for Hollywood, better luck next time!



PS: I've been so lazy to fill this blog, so I hope in the upcoming years I will be more dedicated and diligent with this blog! See you in 2016, and Happy New Year!

Monday, September 7, 2015

A Separation (2011): 'A Fast and Furious' from Iran

I know it’s already to late to talk about this movie. But since I just finished it several days ago, I really want to talk about this movie. Film yang meraih Best Foreign Language Film di ajang Oscar beberapa tahun lalu ini rasanya tepat untuk mengawali kembali aktifnya blog ini.



Menyaksikan A Separation rasanya seperti mengintip kehidupan dua keluarga yang berbeda, dari kelas sosial yang berbeda, dan permasalahan masing-masing, yang saling berbenturan di tengah membentuk jalin konflik yang terhubung dengan kondisi sosial dan aspek religi di Iran.

Tirai pertunjukan dibuka Asghar Farhadi dengan adegan yang kuat. Sepasang suami istri, Nader (Peyman Moadi) dan Simin (Leila Hatami) dengan menggebu-gebu mengajukan tuntutan perceraian mereka. Simin mengatakan ketidakmauan Nader untuk meninggalkan Iran adalah alasannya menceraikan sang suami, bukan karena keburukan tingkah laku. Awalnya Nader dan Simin sepakat untuk pergi ke luar negeri demi mencari kehidupan yang lebih baik, terutama untuk anak perempuan mereka yang tengah beranjak remaja, Termeh (Sarina Farhadi). Namun Nader mundur dari rencana tersebut, dengan alasan tidak bisa meninggalkan ayahnya yang menderita Alzheimer.

Adegan pembuka antara Simin dan Nader.


Lewat sepenggal adegan pertama, kita belajar begitu buruknya kondisi di Negara asal sang sutradara. Hingga bisa mengguncang mahligai rumah tangga yang telah terjalin belasan tahun. Adegan demi adegan berlanjut, makin memperjelas gambaran mengenai Iran dengan konteks sosial, ekonomi, budaya, dan juga agama. Tuntutan perceraian yang ditolak membuat Simin memilih meninggalkan Nader dan Termeh. Nader kemudian mempekerjakan Razieh, seorang wanita muslim yang taat, untuk mengurus rumah dan ayahnya. Razieh (Sareh Bayat) sendiri hadir dengan konflik pribadinya. Ia berkutat antara jarak rumahnya yang jauh, kondisinya yang tengah hamil, kerepotan mengurus rumah Nader dan ayahnya yang tua, serta aturan agama yang membatasi ruang gerak perempuan. Namun semua kondisi tersebut terpaksa ditanggung demi uang untuk membantu suaminya.

Hodjat dan Razieh yang membawa konflik baru dalam kehidupan Simin dan Nader.

Membicarakan A Separation tanpa membocorkan plot adalah hal yang cukup sulit.  Farhadi membangun plot begitu padat, tanpa adegan percuma yang sekedar pengisi. Semuanya saling melengkapi sebagai kesatuan yang utuh. Adegan demi adegan, konflik demi konflik saling membangun menghasilkan ekskalasi situasi yang luar biasa cepat. Seminggu setelah perpisahannya dengan Simin, Nader telah berstatus tersangka pembunuhan atas janin di perut Razieh. Kehidupan Razieh sendiri makin kompleks dengan histeria suaminya, Hodjat yang mudah naik darah dan berperilaku senang menyakiti diri sendiri. Empat karakter utama, serta karakter-karakter yang muncul di pinggiran juga tidak dibangun secara instan, dalam durasi yang tidak terlalu panjang, kompleksitas karakter tetap terbangun. Kita mengenal Simin, Nader, Razieh, Hodjat, Termeh, dan sosok lainnya dengan cepat dan baik.

Sulit untuk memahami A Separation dalam sekali pemikiran. Dilihat secara besar, film ini menangkap ketegangan antar kelas di Iran. Bagaimana Simin-Nader dan Razieh-Hodjat mewakili dua kelas berbeda, yang memiliki konflik. Secara individu, kita juga melihat bagaimana keempat persona ini adalah manusia dengan segala kekurangan mereka, karakter yang tidak mungkin kita hujat karena kita dapat merasakan korelasi dengan kehidupan mereka. Tiap karakter membawa keributan dalam kehidupan karakter lainnya. Kekeraskepalaan, harga diri, ketakutan, dan kecemasan, membuat kita tak bisa memojokkan seseorang saja sebagai antagonis yang patut dibenci. Setiap karakter bahkan melakukan kebohongan atau mementingkan diri sendiri. Namun siapa bisa menghujat mereka? Karena di satu sisi kita bisa memahami tiap keputusan yang diambil keempat tokoh utama ini. 

Sosok observan dengan sisi intelegensia yang kentara muncul dari sosok Termeh. Gadis berusia 11 tahun ini menjadi pengamat dalam pertunjukan sirkus orang dewasa. Sesekali ia melontarkan pertanyaan menohok hasil pengamatannya. Membuatnya menjadi sosok terpintar dalam film ini. Lewat matanya yang awas ia mencoba mencari rasionalitas dari tiap hal yang dilihat dan didengarnya.

Menyimpulkan film ini menghasilkan imej akan potret Iran yang coba digambarkan oleh Asghar Farhadi. Menariknya lebih jauh, film ini menampilkan Iran dalam sisi sosial, ekonomi, budaya, dan agama. Serta bagaimana perbedaan gender begitu vital di negara ini. Namun Asghar juga seakan membisikan kita untuk melihat A Separation dalam lingkup yang lebih sempit, yakni saat ia berbicara mengenai hubungan antar manusia dengan segala konfliknya, yang tak mampu kita hujat karena memang begitulah terkadang cara kita hidup di dunia kita. 

Sunday, November 16, 2014

Interstellar (2014): Nolan's Odyssey

Hi, long time no see. Free time is getting harder to get, and every time I try to find some me time, I end up wasting it, just by watching more movie without really thinking and writing about it. So here is my come back.

Banyak hal menarik saat menyaksikan film ini. Pertama, ini adalah kunjungan saya kembali ke bioskop setelah berbulan-bulan memendam hasrat dan melewatkan film demi film. Kedua, ini kali pertama saya menonton bersama teman-teman sekantor. Yay me, for successful attempt to blend in!

So, Interstellar. Film ini telah membangkitkan rasa penasaran seluruh pecinta film bahkan jauh sebelum di rilis. Kenapa? Well, karena sosok Christopher Nolan sebagai salah satu influential director saat ini. Belum lagi kehadiran deretan cast berbakat seperti McConaughey, Hathaway, Chastain dan Michael Caine. Namun yang paling menarik adalah genre film itu sendiri, Sci-fi dengan slogan Go Further. Nolan menjanjikan sebuah perjalanan dramatis menuju destinasi terjauh dibandingkan imajinasi yang berani dimiliki sutradara lain dari genre yang sama. Kombinasi keseluruhan membuat Interstellar menjadi film paling di antisipasi dan ambisius di tahun ini.



Dimulai dengan perkenalan kondisi bumi di masa depan. Semakin tua, bumi menjadi sekarat. Membawa manusia ke ambang akhir peradabannya. Adalah Coop (Matthew McConaughey) mantan astronot yang menjadi petani, selalu berusaha optimis bahwa manusia akan berhasil melewati masa sulit ini. Secara kebetulan Murph (Mackenzie Foy) anak perempuan Coop menemukan pertanda yang mengarahkan mereka pada kantor rahasia NASA. Kenapa rahasia? Manusia sedang kesulitan pangan, semua dana yang ada diarahkan pada upaya untuk menyediakan pangan, bukan pengembangan teknologi atau penjelajahan angkasa luar, karena itu NASA mengembangkan sebuah proyek penyelamatan manusia secara diam-diam. Dipimpin oleh Prof. Brand (Michael Caine), Coop beserta Amelia (Anne Hathaway) dan dua orang astronot lainnya bertanggung jawab dengan nasib umat manusia. Mereka bertugas menemukan planet lain yang bisa dihuni menggantikan bumi.

Bagi Coop perjalanan ini akan semacam kesempatan kedua menjalani impiannya menjelajahi angkasa. Namun disisi lain ia tahu bahwa kepergiannya akan menghancurkan hati Murph dan keluarganya. Dengan pergi ia bisa menyelamatkan bumi, manusia dan keluarganya namun itu berarti ia akan melewatkan bertahun-tahun kehidupan Murph. Pikiran dilematis yang dihadapi oleh Coop inilah yang akan menentukan nasib manusia. Ketika kelangsungan umat manusia berada di tangan empat orang astronot tidak berpengalaman, bahkan belum pernah berada di luar bumi, tentunya menjadi hal absurd untuk sebuah film yang  sangat ambisius.



Interstellar bisa dibagi dalam dua bagian. Pertama adalah bagian awal yang penuh akan drama dan menitikberatkan pada pengenalan karakter dan family issue. Dan bagian ini rasanya bukan bagian favorit saya. Jujur pada genrenya, drama sekadar sebagai tempelan. Kisah kemanusiaan bukan fokus utama, hanya pelengkap cerita. Inilah garis pemisah antara Interstellar dan Gravity, yang justru kental akan life lesson. McConaughey setelah kesuksesannya dalam Dallas Buyers Club, berjuang keras untuk menampilkan sisi kebapakan. Dia berhasil menghadirkan kelembutan khas orang tua dan membuat saya ikut berkaca-kaca saat ia terpisah dengan Murph. Hathaway disisi lain, sama-sama berusaha meskipun tak benar-benar berhasil. Sementara Jessica Chastain sebagai Murph dewasa membantu memperdalam unsur drama. Tapi elemen yang paling hadir dari sosok robot pembantu TARS dengan sense of humor yang sarkastik namun begitu segar, menjadi jeda yang tepat saat saya mulai merasa lelah dengan dahi berkerut memikirkan detail perhitungan perjalanan antar galaksi ini.  

Sementara bagian kedua film adalah pertunjukan utama yang sudah dinantikan. Visualisasi luar biasa terjemahan dari naskah karya Jonathan Nolan. Bukan rahasia bahwa Nolan berkonsultasi dengan Kip Thorne seorang ahli fisika untuk menciptakan detail akurat secara ilmiah tentang penampakan black hole dan perjalanan antar galaksi. Dan hasilnya? Spectacular. The Saturn, the worm hole, the black hole, and tesseract, all of them were superb. Begitu teliti, seakan kita tengah menyaksikan dokumentasi NASA akan penjelajahan antariksa. Sinematografi ‘bersih’ dan angle tidak biasa menunjukan kekuatan dan kebesaran alam semesta sekaligus kekuatan Nolan dalam menerjemahkan sebuah dunia baru ke dalam elemen film.

Film ini tidak cukup kuat menghadirkan drama sarat humanisme, akan kekuatan manusia dalam menghadapi ‘akhirnya’. Kekuatan terbesar –sama dengan film Nolan lainnya, hadir lewat permainan alur, logika dan atraksi visual, hasil daya khayal yang luar biasa. Sebagai penutup Nolan menghadirkan salah satu senjata lainnya, yakni kejutan diluar dugaan penonton. Walaupun tak begitu kuat dalam eksekusi –seakan dipaksakan dan tidak masuk diakal, namun cukup untuk membuat saya ingin memeluk Nolan bersaudara, menyelamatinya atas imajinasi dan ambisinya yang menakjubkan.


Wednesday, June 11, 2014

Maleficent (2014): Bring Me More Evil and Wicked Jolie!

Empat tahun absen di layar lebar tentunya publik menanti-nanti kehadiran salah satu Hollywood Royalty, Angelina Jolie. Sejujurnya, saya termasuk penggemar tunangan Brad Pitt ini, maka wajar kalau perannya dalam film Disney yang sangat un-Jolie-like, begitu saya tunggu. Beberapa trailers yang telah di buzz berbulan-bulan menunjukan ‘how wicked and badass she is’. Keren. Selain itu, tone film jauh lebih ‘gelap’ dibandingkan tipe film Disney lain yang bubbly dan happy.

Poster Maleficent yang membuat saya 'jatuh cinta'

Adegan dibuka dengan kisah masa kecil Maleficent. Sisi yang selama ini tidak tertulis dalam tiap dongeng. Maleficent adalah peri terkuat pelindung Moors, kawasan yang dihuni makhluk-makhluk fantasi. Maleficent kecil memiliki seorang sahabat manusia bernama Stefan. Di usia mereka yang ke-16, mereka berikrar dengan sebuah ciuman cinta sejati. Namun lambat laun, Stefan mulai berubah. Keserakahannya menjadikan Stefan tega memotong sayap Maleficent demi mengambil hati raja yang sudah sepuh dan menikahi puteri mahkota. Merasa dikhianati, Maleficent berubah menjadi sosok penuh angkara murka yang siap membalas dendam pada Raja Stefan.

Maleficent merupakan debut penyutradaraan Robert Stormberg yang sebelumnya sukses membawa pula 2 piala Oscar atas kiprahnya sebagai production designer dalam film Alice in Wonderland dan Avatar. Sayangnya Stormberg tak begitu piawai menerjemahkan skrip. Adegan yang muncul terasa berantakan dan tidak terarah. Narasi lambat, membuat adegan pembukaan terasa begitu panjang dan membosankan. Penyelamat dari kejenuhan ini adalah angkara murka Angelina Jolie.

Delishly evil!

Sebagai peri yang dikhianati, Jolie bisa mengeluarkan kepedihan itu dengan begitu baik. Namun tidak ada yang dapat mengalahkan ekspresi penuh dendam diwajahnya. Justru saya menatap layar penuh kekaguman saat Jolie hadir dengan bibir merah darah, tanduk yang mencuat, mata berkilat-kilat dan dendam kesumat. Aura jahatnya justru membuat film terasa lebih hidup dan menarik. Sebagai pembalasan dendamnya, ‘The Evil Maleficent’ hadir dalam pesta pembaptisan Aurora, putri Stefan. Kehadirannya di layar menutupi pesona pemeran lainnya. Jolie menguasai betul film ini.

Adegan-adegan minus Jolie, lewat begitu saja. Kehadiran tiga aktris papan atas Inggris, Imelda Staunton (Prof. Umbridge dalam Harry Potter), Juno Temple (Atonement, The Dark Knight Rises) dan Lesley Manville (Romeo & Juliet) sebagai trio peri pelindung Aurora, hanya jadi pengundang tawa yang tak di eskplorasi lebih jauh. Dijadikannya Sharlto Copley sebagai King Stefan rasanya adalah sebuah kesalahan. Ia bukan tandingan Jolie. Saat adegan berpasangan dengan Jolie, ia tampak menghilang dari layar. Untungnya, Elle Fanning bisa dengan mudah mencuri perhatian dalam film. Sebagai Aurora ia bisa menyeimbangkan kuatnya intensitas Jolie.

Sebagai penulis naskah Linda Woolverton memilih menunjukan sisi lain Maleficent ketika berhadapan dengan Aurora. Kebencian Maleficent menuntunnya pada perasaan sayang kepada Aurora. Meskipun ia menjuluki Aurora sebagai ‘Beasty’ alias Monster Kecil, rasa simpati tumbuh membuatnya menyesal telah mengutuk Aurora. Menggunakan ending a la Frozen, Maleficent dijadikan sebagai pemilik cinta sejati untuk Aurora.

Ketika promo film ini, Jolie pernah berkata bahwa sejak kecil ia menyukai sosok Maleficent karena daya tarik keangkuhan dan sisi jahat yang begitu menggoda. Pesona ini justru berkurang dalam Maleficent. Membiarkan penonton bersimpati dan melihatnya sebagai korban bukan pelaku. Padahal misteri kekejaman dan arogansi Maleficent membuatnya menjadi simbol antagonis Disney yang ikonik, dan tak terlupakan. Secara pribadi saya memilih untuk tetap melihat Maleficent sebagai The Evil, ketimbang menyaksikannya meneteskan air mata duka menangisi Aurora yang jatuh dalam tidur 1 menit panjangnya.


Mengharapkan Jolie membawakan aksi kejam dan licik yang sanggup membuat bulu roma berdiri, saya justru mendapatkan penjahat yang bertobat. Kerinduan menyaksikan aksi memukau Jolie di layar rasanya tak terpuaskan. Ledakan amarah dan kejahatan yang saya tunggu muncul hanya sekejap. I wish they showed me more deliciously evil Maleficent… 

Friday, June 6, 2014

How to Train Your Dragon 2 (2014): Funnier, Heavier and Toothless

Berusaha mengulang kesuksesan film pertamanya di 2010, DreamWorks merilis How to Train Your Dragon 2, kisah persahabatan tidak biasa antara manusia dan naga. Masih dikomandoi oleh Dean DeBlois, Dragon 2 ditunggu dengan iming-iming aksi yang lebih atraktif, konflik yang lebih matang dan menyayat hati. Coba ingat kembali ending How to Train Your Dragon yang menunjukan pada penonton bahwa pahlawan memang harus berkorban dan bahagia tak berarti sempurna. Akhir tidak terduga dari sebuah film animasi yang identik dengan ‘happy ever after’.



Dragon 2 dibuka dengan kondisi Berk, masyarakat Viking, lima tahun pasca konflik besar mereka dengan para naga. Kini masyarakat Berk hidup rukun bersama para naga. Makhluk penyembur api ini dilibatkan dalam setiap aktivitas warga. Bahkan sebuah pertandingan macam Quidditch pun melibatkan naga sebagai tunggangan. Sementara Stoick (Gerard Butler) kepala suku Berk ingin agar putranya, Hiccup (Jay Baruchel), menjadi kepala suku menggantikannya. Namun Hiccu lebih memilih mengeksplorasi daratan jauh bersama naga hitam kesayangannya yang menggemaskan, Toothless. Hiccup merasa menjadi kepala suku bukanlah ‘dirinya’.



DeBlois kembali berhasil memukau penonton dengan persahabatan antara Hiccup dan Toothless yang memang daya tarik terkuat dalam Dragon 1. Tingkah lucu Toothless benar-benar membuat penonton gemas pada hewan legenda ini. Sebagai karakter tanpa dialog, Toothless tetap jadi tokoh sentral yang menarik hati penonton dengan gestur dan kelakuannya yang menyerupai anak kucing. Toohtless jadi pencuri perhatian dalam setiap adegan!

Dibuka dengan menyenangkan dan berenergi kemudian digantikan oleh adegan mengundang air mata akibat konflik keluarga. Hiccup akhirnya bertemu kembali dengan ibunya, Valka (Cate Blanchett) yang selama ini ia anggap telah mati. Sang ibu yang menjadi penjaga para naga, memohon kesempatan kedua kepada anak yang ia tinggalkan. Valka memohon maaf dan memintanya untuk kembali membangun keluarga yang utuh. Sebuah lagu romantis a la Viking pun dinyanyikan oleh sosok besar Stoick pada Valka untuk memenangkan hatinya kembali. Adegan yang menyentuh hati.  

Tiran jahat hadir lewat sosok Drago Bludvist (Djimon Hounsou) yang berambisi menguasai semua naga dengan mengalahkan naga alfa yang selama ini dilindungi Valka. Peperangan pun tak terelakkan, dan memakan korban jiwa yang begitu besar, sekaligus mempertaruhkan persahabatan Hiccup dan Toothless.

DeBlois jelas berusaha menyeimbangkan setiap subplot yang dalam Dragon 2, dan sukses. Tiap bagian memiliki porsi jelas yang tidak sia-sia. Melewati berbagai konflik, mood penonton ikut terbentuk mengikut karakter berkat bantuan scoring yang luar biasa memikat dari John Powell. Sebelumnya score masuk nominasi Best Original Score untuk Academy Awards 2011 berkat karyanya dalam Dragons 1, dan rasanya ia menjadi kandidat kuat untuk kembali masuk nominasi tahun depan.

Multi konflik yang dihadirkan sedikit mengurangi pesona film ini. Dragon 2 memang lebih penuh aksi dan menghibur, namun bertubi-tubinya konflik yang dihadapi oleh Hiccup serta banyaknya karakter menghilangkan kesederhanaan dan kedalaman emosi yang sebelumnya menjadi daya tarik Dragon 1. Deretan kisah yang seharusnya membantu menyusun kerangka emosi justru menjadi bumerang yang mendangkalkan keterikatan penonton pada sosok protagonis. Meskipun begitu, Dragon 2 tetap menjadi animasi istimewa yang berbeda dibandingkan karya DreamWorks lainnya.