Tuesday, July 30, 2013

The Wolverine (2013) : Can I Get A Refund, Please?

I was never a fan of Marvel’s X-Men superhero. But when I watch their movie, I kinda like Wolverine or Logan’s character. He is the badass, rough, strong, independent, one-liner and handsomely heroic. But after I watch the fifth installments of Wolverine, there is one question that popped-up in my mind. “What the hell happen on Wolverine so he does some baby-sitting in Japan?”


(taken from this site)

Film dimulai dengan pelajaran sejarah peristiwa jatuhnya bom atom di Nagasaki, Jepang. Ternyata Logan adalah salah satu saksi hidup kejadian mengerikan tersebut. Bersama seorang tentara Jepang, Yashida, Logan berhasil selamat. Kemudian adegan kembali ke masa sekarang dimana Logan, pasca perang antar mutan (X-Men: The Last Stand), menjadi sosok pria gunung yang dihantui bayangan kekasihnya Jean Grey dan berteman dengan seekor beruang.  

Hingga suatu ketika, Logan bertemu dengan Yukio (Rila Fukushima) mutan eksentrik asal Jepang yang memiliki misi untuk menemukan Logan dan membawanya pada tuannya. Logan yang awalnya menolak kemudian ikut datang ke Jepang dengan niat hanya menghabiskan waktu satu hari di sana.

Rupanya majikan Yukio adalah Yashida yang kini menjadi konglomerat di Jepang. Yashida yang tengah sekarat ingin bertemu Logan untuk menawarkan pertolongan untuk mengakhiri keabadian Logan sehingga ia bisa hidup seperti manusia biasa. Tawaran tersebut kemudian ditolak oleh Logan, dan tak lama Yashida pun meninggal. Sepeninggalnya Yashida, Logan malah tersangkut konflik keluarga Yashida dan Yakuza (Japan’s version of mafia) yang membuatnya harus mengasuh dan melindungi cucu perempuan Yashida, Mariko (Tao Okamoto). Mariko menjadi incaran Yakuza karena akan mewarisi semua kekayaan kakeknya. The plot are getting messier when there is another mutant, Viper, which is the reason why Logan physical condition are getting weaker, and the black-ninja clan as the guardian of Yashida.

Semenjak kemunculannya dalam film X-Men hampir 13 tahun lalu, Logan atau Wolverine selalu digambarkan sebagai sosok yang complicated. Ia memiliki masa lalu yang kelam dan hal tersebut membuatnya menjadi sosok penyendiri yang eksentrik dan misterius. Gelapnya karakter Logan justru menjadi ciri khas dan kelebihan yang membuatnya menarik. Kelebihan tersebut malah gagal diperlihatkan oleh sutradara James Mangold dalam The Wolverine. Kenangan buruk tentang Jane yang terus menghantui harusnya menjadi asset yang mampu membuat film menjadi lebih menarik dengan sosok Logan yang more complicated. Misi Logan untuk melindungi Mariko tidak tampak dilandasi emosi yang memadai. Bahkan ketika bunga-bunga romantisme bermekaran, tidak ada greget sama sekali, as if Okamoto couldn’t catch up with Jackman’s feeling. (She just didn't understand how lucky she was because she could kiss one of the sexiest men alive).

Dangkalnya kolam emosi Logan bukanlah kesalahan Hugh Jackman. Tentunya Jackman paham betul Logan karena ini adalah penampilan keenamnya sebagai Wolverine (penampilan ketujuh ada dalam film X-Men First Class: Days of Future Past). Jackman tetap menjadi sosok Logan yang memukau secara fisik dan mampu membuat penonton terhibur dengan humor sarkasmenya. Hanya saja plot yang ada tidak begitu mengeksplorasi kelebihan Wolverine as an eccentric mutant-slash-superhero. Plotnya yang membosankan membuat saya benar-benar ingin menyandingkan sosok Logan dengan karakter Vin Diesel di film The Pacifier (2005). Well, both of them have ripped body, love to wear a white top and do some baby-sitting.


Mr. Vin Diesel do baby-sitting with white top (taken from this site)


Logan in white top with the claws (taken from here)


Meskipun keseluruhan film tak begitu memuaskan, tapi tetap ada adegan memukau dalam The Wolverine.  Adegan perkelahian Logan versus Yakuza diatas kereta Shinkansen dengan kecepatan lebih dari 400 km/jam adalah salah satu adegan yang menonjol. As they try to knocking each other out of the train, they have to maintain their position as the train move. Meskipun adegan tersebut dibuat menggunakan komputer, tapi tetap menarik dan membuat saya cukup terkagum-kagum.  Selain itu kehadiran Yukio sebagai sidekick/bodyguard dari Logan juga membuat adegan pertarungan lebih berwarna dengan teknik putaran yang membuat lawan terpuntir atau tergantung. Adegan Logan membelah dadanya sendiri juga menarik, meskipun tampaknya adegan tersebut disensor di bioskop di Indonesia (I want to see more blood!).


When I watch The Wolverine I don’t have any expectations for the movie. I even didn’t read any review before I went to the theater. I just hope I could find some entertaining time with Wolverine, but as the fifteen minutes after beginning of the movie, I really hope I could refund the ticket or go to another theater and watch the old people in RED 2.  Sigh. 

* oh but, the extended scene was good. It was more interesting than the entire movie... 

Thursday, July 11, 2013

Salmon Fishing In The Yemen (2011) : Fishing, Faith and Salmon

I know, a lot of recent movies in theaters and I could make reviews about them. But, I still have no time to visit theater yet, so I have to satisfy myself with my cable tv. Thanks God, it airing Salmon Fishing In The Yemen.


(taken from Google)


First time I know about this movie was when I watched Golden Globes in 2012. And this movie was in nomination for Best Movie in Comedy or Musical. But, I have no idea, what this movie about. Personally, the title was ridiculous for me. But, after I watched the movie, well, I think it was a good one.

Salmon Fishing In The Yemen adalah judul dari epistolary novel karya Paul Torday, and it’s all about political satire. Kemudian dengan kepiawaian Simon Beaufoy (Slumdog Millionaire) buku kemudian menjadi skrip film yang mendapat tiga nominasi dalam Golden Globes 2012 lalu.

Kegiatan memancing ikan salmon di Inggris sebenarnya merupakan sebuah olahraga yang biasa dilakukan oleh para penggila mancing di Negeri Ratu Elizabeth tersebut.  Populasi ikan salmon yang terkenal bisa berenang melawan arus ini pun banyak ditemukan di Laut Atlantik Utara yang dekat dengan wilayah Skotlandia. Lantas kegiatan memancing ini kemudian menjadi isu penting ketika Sheikh Mohammed seorang raja minyak (Amr Waked) menginginkan agar bisa memancing salmon di tanah asalnya, Yaman. Namun ide gila yang mengharuskan 10.000 ikan salmon dipindahkan hidup-hidup dari Inggris ke Yaman ini didukung oleh pemerintah, terutama karena bisa menjadi publikasi yang baik bagi hubungan UK dan timur tengah. Look, for political reason even the silliest idea could be a good and only opt that’s existed. Ide yang konyol untuk memindahkan puluhan ribu ikan salmon hidup semakin kocak dengan tampilnya Kristin Scott-Thomas as Patricia Maxwell, juru bicara Perdana Menteri yang mendukung benar ide ini karena bisa berdampak bagus bagi atasannya. Dengan gayanya yang comical, Maxwell menambah unsur how-ridiculous-this-idea-and-also-the-government.

Hanya saja, political satire justru menjadi subplot sampingan dalam film yang diarahkan oleh sutradara Swedia, Lasse Hallstrӧm. Salmon Fishing In The Yemen malah lebih banyak memperlihatkan sisi humanis yang ditemukan dalam sosok protagonist Dr Alfred Jones (Ewan McGregor), pegawai negeri dari Departemen Perikanan dan Perburuan yang bertugas bertanggung jawab akan proyek Salmon Fishing ini. Dr. Jones adalah pria yang hampir mencapai usia paruh baya dengan pernikahan yang ‘dingin’ dan istri yang telah dikenalnya sejak remaja. Kehidupan Dr Jones hanya berkutat dalam pekerjaan dan keluarga yang sama-sama menjemukan.

Rupanya Hallstrӧm menginginkan film ini bukan melulu political satire tapi lebih menggambarkan ide penyatuan antara western dan eastern (atau middle-eastern tepatnya). Tampilnya Sheikh Mohhamed yang charming, wise and very open minded seakan berusaha menunjukan keterbukaan dan pesona timur tengah. Bahkan ada beberapa dialog preachy about faith and religion dari sheikh, tapi sangat soft, sehingga penonton tak perlu takut merasa digurui. Pesona dari sheikh ini juga didukung dengan didapuknya Amr Waked, aktor asal Mesir yang tampan and charismatic, mengingatkan kita pada sosok Ben Kingsley.

Belumlah cukup sebuah film tanpa romantisme. Sembari mempersiapkan proyeknya Dr. Jones pun menemukan romantisme dari sosok Harriet Chetwode-Talbot (Emily Blunt), personal assistant yang didaulat untuk mengurus proyek ini. Bersama dengan Harriet, Dr. Jones melewati setiap permasalahan dalam proyek ini, sekaligus dalam hubungan mereka. Ketika pada akhirnya, Harriet jatuh pada pesona Dr Jones, usai kekasihnya dinyatakan hilang dalam perang di Afganistan.


Dr Jones and Harriet during a dinner scene (also taken from Google)


Chemistry antara Harriet dan Dr. Jones dimainkan dengan sangat baik. McGregor berhasil bertransformasi dari sosok Scottish-Hottie that played as Obi-Wan Kenobi in Star-Wars jadi pria paruh baya membosankan dan tidak punya sense of humor sama sekali. Yang tentunya berkebalikan dengan sosok Harriet yang cantik dan mempesona. Dalam film ini perubahan hubungan keduanya terlihat kentara tapi tidak terburu-buru. Perubahan hubungan keduanya yang semula professional menjadi kedekatan emosional harus saya acungi jempol. Both of them radiate passions for each other but also the awkwardness when they together, makes them such a darling couple.

But still happiness is a long journey for Dr. Jones, ketika muncul ancaman dari pihak extremist Yaman yang mengancam kelangsungan proyek, karena tidak menyukai kehadiran ikan-ikan western tersebut ke tanah Yaman. Bahkan ada rencana pembunuhan terhadap Sheikh Mohammed yang berhasil digagalkan Dr. Jones dengan alat pancingnya! Bisa dibilang ide terorisme ini adalah subplot lain yang tampak setengah-setengah dan tidak membawa tension apapun pada film. 


Film ini jelas bukanlah film yang sempurna membawa misi political satire seperti bukunya, tapi Salmon Fishing In The Yemen dengan baiknya memberikan romantisme komedi melalui cara yang unik dan tidak biasa. Memasukan sedikit petuah tanpa harus jadi berat dan menggurui. Semuanya tampak tidak masuk diakal, hingga kita menyaksikan film ini sampai habis dan menemukan sendiri apa yang mau kita ambil. Salah satunya mungkin telah diucapkan oleh Sheikh Mohammed bahwa faith punya nilai yang sama seperti memancing, yakni all about tolerance, patience and humility. 

Sunday, June 16, 2013

Man of Steel (2013) : When Superman Lost His Joyful Sense

Based on my experience, I never enjoy any Superman movies. From Christopher Reeves till the Brandon Routh’s, I never really be a fan of Superman. So I have to admit that I don’t feel any excitement to watch Zack Snyder’s ‘Man of Steel’. But here, I try to be objective...



Kesan pertama saya setelah sekitar 15 menit menyaksikan film ini adalah : it is really sci-fi. 30 menit pertama penonton menyaksikan kekacauan di Planet Krypton tempat asal muasal Kal-El alias Superman. Di tengah ancaman kiamat pada planetnya, General Zod, pimpinan militer di Krypton malah melakukan pemberontakan. Kondisi kacau tersebut membuat Jor-El (Russel Crowe) dan Lara (Ayelet Zurer) mengirim putra mereka Kal-El ke bumi, dimana nantinya ia diharapkan bisa membentuk kembali peradaban Krypton. Kemudian film meloncati waktu dan menunjukan kehidupan Kal-El di bumi sebagai sosok Clark Kent. Sebagai manusia, Kent menyadari dirinya berbeda. Sehingga ia menjadi outcast yang selalu berusaha mencari tahu kebenaran tentang dirinya dan keluarganya. Sesekali Snyder menggunakan mosaik untuk memperlihatkan kenangan masa lalu Kent, bagaimana ia tumbuh dibesarkan oleh Pa Kent (Kevin Costner) dan Ma Kent (Diane Lane) sebagai anak yang spesial. ‘Man of Steel’ is a story of superhero in the making (just like Batman Begins). Film ini bercerita kenapa dan bagaimana Clark Kent menjadi sosok Superman.  

Di awal film penuh dengan kapal luar angkasa, senjata from out-of-the-world, astronaut suit, DNA mutation thingy, black hole, dan elemen lainnya yang identik dengan film alien semacam ‘War of the Worlds’. Tapi kemudian penonton juga disuguhkan efek tilt camera dengan sun-kissed scenes and it’s very drama-ish, which I thought was influenced by Terrence Malick’s or movies that based on Nicholas Sparks’s novels.

‘Man of Steel’ menampilkan aktor asal Inggris, Henry Cavill sebagai the newest Superman. Physically Henry Cavill may be isn’t that handsome or charismatic compared with Reeves, but with that ripped body just like Spartans in that Snyder’s ‘300’, I thought he will be the newest hunk in Hollywood. Cavill rasanya cocok menjadi Clark Kent meski harus diakui kemampuannya tidak terlalu dieksplorasi dalam film ini. Berbeda dengan Superman ala Routh yang terjebak dilema antara nerd dan superhero, Cavill tidak (atau belum, hint for sequel may be) mengalami double identity issue. Ia justru bergulat dengan dirinya mengenai ras mana yang akan ia bela, manusia atau Kryptonians.

Sementara itu Superman’s love interest, Lois Lane dibintangi oleh Amy Adams. Lane versi Adams adalah Lane yang membosankan. Mungkin seharusnya ia bisa membawa sisi kuat dalam sosok damsel in distress, tapi rupanya ia tidak begitu sukses. Sama dengan rekan-rekannya di Daily Planet terutama pimpinannya Perry White (Laurence Fishburne) yang rasanya sia-sia ada dalam film. Sosok General Zod versi Michael Shannon tampil dengan baik meski tidak mengesankan. Shannon menampilkan sosok jendral yang kuat dan siap mengorbankan apapun demi menjaga bangsanya. Tapi lambat laun karakternya pun jadi membosankan (I miss the old campy General Zod by Stamps in ‘Superman II’).

Ketika ‘Man of Steel’ tengah memasuki masa pre-production, kemudian muncul berita bahwa Christopher Nolan akan duduk di kursi produser semua orang tampak mafhum jika ‘Man of Steel’ akan jadi Superman versi The Dark Knight Trilogy.  And it was. It is the gravest version of all. Mulai dari kostum berwarna biru gelap yang menyerupai hitam dan warna cape yang burgundy. So, Superman just lost his sense of bright pop fashion. Atmosfer serius dalam film ini diperparah dengan adanya preaching dari berbagai karakter. Mulai dari Jor-El hingga Pa Kent yang terus menerus memberikan teladan bagi anaknya (dan juga penonton). And it was really party-pooping.

Hal yang mencolok dalam film ini adalah penggunaan CGI untuk pertarungan yang sangat destruktif. Like Superman and his Kryptonians villains need to smash all things. Rupanya penggunan CGI yang berlebihan ini memiliki alasan khusus.  Berdasarkan tulisan David Edelstein tentang buku Sleepless in Hollywood karya Lynda Obst, ada alasan dibalik kenapa banyak sekali film Hollywood yang kini menampilkan aksi dengan CGI, penuh ledakan dan efek-efek IMAX serta 3D. Rupanya efek yang sangat meledak-ledak ini, jadi faktor yang membuat film Hollywood laku dan meraih keuntungan besar di berbagai negara, termasuk di China, negara yang selama ini menutup diri dari Hollywood. Bahkan uang dari penonton China mampu menyumbang sebesar 80% dari keuntungan film Hollywood tersebut..

Back to the movie, ‘Man of Steel’ is a Superman’s lost story. Karakteristik film ini melenceng jauh dari joyful and pop sense yang biasa ditampilkan dalam semua penampilan Superman baik di film maupun di komik. Superman adalah pop culture icon. Dia seharusnya menyenangkan, segar dan fun. ‘Man of Steel’ benar-benar menghilangkan ciri khas pop culture dari Superman, tapi bagaimanapun itu menyenangkan untuk melihat versi cerita lain dari this grand-daddy of superhero.  

if you want to know me in person just check my personal account:
Twitter - Facebook - Tumblr - Pinterest - Instagram 

Tuesday, June 11, 2013

Now You See Me (2013) : The Movie About Magician Which is Not-So-Magical

I was expecting such an energetic, flashy and imaginative movie about magician, and yes I got that from Now You See Me. The tricks in the movie are dazzling and interesting. But that’s all. That’s what will you get when you see the movie. Feel the dazzle but you won’t get the gee-whiz feeling when the tricks are revealed.



20 menit pertama dari Now You See Me, penonton akan diperkenalkan dengan semua tokoh dalam film. An arrogant illusionist Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), a girl houdinian Henley Reeves (Isla Fisher), sly mentalist Merrit McKinney (Woody Harrelson) and a master of pickpocket Jack Wilder (Dave Franco). Keempatnya kemudian membentuk Four Horsemen dan melakukan aksi sulap sekaligus perampokan yang membuat pihak agen khusus FBI Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) dan perwakilan Interpol Alma Dray (Melanie Laurent) mengejar mereka. Aksi kucing-tikus antara FBI dan keempat pesulap ini semakin seru (atau rumit) dengan kemunculan Arthur Tressler (Michael Caine) seorang pria kaya raya dan Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) mantan magician yang kini berprofesi membongkar semua rahasia rekan seprofesinya tersebut. 



Setelah 20 menit berlalu, film ini bergerak dengan sangat cepat. Plot yang cukup rumit dan ‘kaya’ disajikan dengan cepat tanpa memberikan kesempatan untuk penonton menghela nafas dan mencerna semuanya. So, figuring whose the nice guy and the bad one are quite hard. The more you try to catch the whole picture, the more befuddled you could be. You might be think that you get it, but it turns out wrong and misdirection.

Sutradara Louis Letterier (Clash of Titans) mengira dengan jalan cerita rumit dan twist di akhir film dapat membuat penonton puas. Sayangnya ia salah. Penonton perlu menumbuhkan rasa percaya pada plot serta emosi yang dimiliki karakter. What Louis want to show are the whole details and how complicated the story was, but it was actually sacrificing the characters development. Karakter yang muncul dangkal. Muncul tanpa penjelasan mengenai niatnya apa, mengapa ia melakukan ini, atau apa hubungan karakter satu dengan yang lain. Tidak ada emosi yang mampu disampaikan karakter pada penonton.

Plot yang rumit dan ‘kaya’ rupanya juga tidak terlalu berhasil di eksekusi dengan baik. Hilangkan semua entertaining and dazzling magic trick, penonton akan sadar bahwa film ini not-so-magical. Now You See Me tipe hiburan satu jam tiga puluh menit yang bahkan tidak akan menempel di otak penonton begitu keluar bioskop. Hingga rasanya plot film ini digarap kurang matang, karena hanya mengandalkan trick sulap yang diharap mampu mengecoh penonton dari kekurangan film ini.

Seakan sudah memberikan peringatan betapa bisa membingungkannya film ini, Daniel Atlas di awal film berkata, “The closer you look, the less you see.” Dan sepertinya itulah peringatan bagi penonton, tak perlu menyaksikan film ini terlalu dekat dan detail, karena rupanya anda bisa kecewa. 

Oh, by the way in case you want to see from my eyes holes, you could see my Instagram account: daniarcikita. See you in visual world :) 

Monday, May 20, 2013

The Great Gatsby (2013) : Hopelessly Romantic or American Dream?




‘The Great Gatsby’. Awalnya saya sama sekali tidak punya bayangan film apakah ini. Aksi? Drama? Thriller? Atau jenis film ‘njelimet’ yang biasa dibintangi oleh Leonardo DiCaprio? Judulnya pun tidak memberikan saya petunjuk sedikitpun tentang film ini. Apa sih hebatnya si Gatsby ini sampai harus dijuluki ‘The Great’? Well, semua pertanyaan saya terjawab ketika melihat adegan the main character, Jay Gatsby (Leonardo DiCaprio). Adegan tersebut menampakan wajah Gatsby secara close-up, sementara di belakangnya tampak kembang api berwarna-warni di langit malam, dan gemuruh teriakan orang-orang di pesta mewah yang diadakan olehnya. Intinya Gatsby tampak menjanjikan sebagai ‘The Great’. Muda, tampan, kaya raya, menyenangkan dan punya banyak teman.

Awal film digunakan untuk memperkenalkan seluruh kehebatan Gatsby dari sudut pandang Nick Carraway (Tobey Maguire), pengamat-teman-sekaligus narrator dari kisah hidup Gatsby. Nick, bercerita dari masa depan, menghantarkan kita pada kisah Gatsby, tetangganya yang misterius, suka mengamati Nick dari kastilnya yang besar, atau berdiri melamun pada malam hari di dermaga mencoba menggapai sesuatu. Lalu kemudian Nick punya kesempatan mengenal Gatsby lebih jauh, dan penonton pun bisa tahu seperti apa sosok Gatsby. Pria ini hidup bergelimang harta di rumah yang menyerupai Disney magical castle, menyelenggarakan pesta di setiap akhir pekan,  berteman dengan orang-orang hebat, serta tampak punya bisnis rahasia, karena begitu seringnya telepon berdering untuknya.

Seperti Nick yang kagum dengan kehidupan Gatsby, penonton juga dibawa terkagum-kagum dengan pesta yang disajikan di layar. Baz Luhrmann, sang sutradara menampilkan pesta yang hebat, tampak seperti penampilan Broadway yang dibawa ke dalam istana. Confetti, wine, balon, wanita dengan gaun dan hiasan kepala yang unik, pria berjas mahal dan trendy, penari yang berkostum gemerlap, belum lagi rumah Gastby sendiri sangat mengagumkan dengan sentuhan Art Deco dan lampu gemerlap seperti berlian. Very extravagant.

Namun seluruh kemewahan, uang, minuman keras dan istana yang dimiliki Gatsby hanyalah sebuah bagian dari upayanya mencapai obsesi terbesarnya, yakni cinta pertama yang gagal dimilikinya, seorang wanita bernama Daisy Buchanan (Carey Mulligan), yang juga sepupu Nick. Daisy kini telah berkeluarga dengan seorang pria kaya bernama Tom Buchanan (Joel Edgerton).  Disinilah kita bisa melihat sosok lain dari Gatsby, ia bukan sekedar pria kaya yang royal atau pebisnis dengan uang haram, ia adalah seorang pria romantis yang ingin bersama dengan wanita yang dicintainya. Mimpi terbesarnya adalah mengulang waktu agar bisa kembali bersama Daisy.

Jika sebelumnya Luhrmann menampilkan pesta yang luar biasa hebatnya, kini harus dikatakan ia kurang mampu menampilkan sisi romantisme sekaligus adegan flashback Gatsby dan Daisy. Adegan flashback dibuat dengan hitam putih dan efek computer yang kasar (entah jika memang dibuat sengaja seperti itu), atau adegan dimana Gatsby mengingat surat terakhirnya untuk Daisy, yang tampak terbayang di langit. Cukup menggelikan dan mengganggu. Beberapa review malah mengatakan gaya Luhrmann dalam mengadaptasi novel masterwork karya F. Scott Fitzgerald ini, sangat kasar, vulgar dan cenderung norak. Luhrmann tampak terlalu fokus menampilkan sisi gemerlap dan berlebihan dalam dramatisasi beberapa adegan, hingga The New Yorker dan The Guardian memasukan kata ‘orgy’ dalam impresinya terhadap beberapa adegan. Tapi, saya harus akui saya tidak terlalu terganggu dengan gaya sutradara Luhrmann. Sejak menyaksikan ‘Romeo + Juliet’ yang menurut saya comical dan sangat pop, saya cukup menyukai gaya penyutradaraanya, meski memang ‘The Great Gatsby’ jauh lebih berlebihan dibandingkan ‘Romeo + Juliet’. Terkadang efek latar dari komputer yang tampak tidak menyatu dengan para aktor justru menjadikan kisah ini seperti berada di dunia dongeng yang tampak unreal.

Pujian tertinggi harus saya haturkan pada sosok Leonardo DiCaprio. Ia tampil meyakinkan, sebagai sosok pria yang begitu optimis, namun di kesempatan lain bisa sangat grogi dan naïve bila berhadapan dengan pujaan hatinya. Adegan yang menurut saya tidak bisa dilupakan dalam film ini ketika Gatsby tampak luar biasa grogi menantikan kesempatan bertemu kembali dengan Daisy. Leo mampu mendapatkan simpati penonton atas romantisme sekaligus menimbulkan gelak tawa karena sikapnya. Penampilan Leo dalam 'The Great Gatsby' sekaligus mengingatkan saya betapa ia punya pesona yang kuat. Sama seperti Jack Dawson dalam 'Titanic', tatapan mata Gatsby sanggup melelehkan hati wanita. 



Carey Mulligan sendiri tampil luar biasa cantik. Mulligan mampu menjadi sosok Daisy yang rapuh, ketakutan dan bingung atas apa yang ia inginkan. Daisy menjadi tipikal wanita yang selalu diinginkan pria, namun ia sendiri bingung atas apa yang ia inginkan. Hingga butuh sebuah ledakan emosi besar dalam film ini untuk menggoncangnya dan membuat ia mengambil sikap.

Sementara Tobey Maguire sebagai Nick Carraway juga tidaklah buruk, meski jauh dari kata mengesankan. Kaitan emosi antara Nick dan Gatsby merupakan salah satu hal yang tampak dengan sangat baik dalam film ini. Nick memiliki kekaguman (atau rasa cinta ?) luar biasa besar pada sosok Gatsby, meski diawal sempat tak percaya padanya. Pada akhirnya hanya Nick lah sosok yang selalu menemani Gatsby dan memberikan pujian baginya,

"They're a rotten crowd. You're worth the whole damn bunch put together." –Nick Carraway

Lantas sebenarnya bercerita tentang apakah film ini? Kisah cinta? Pada dasarnya ya, salah satu sisi kisah ini ialah romantisme percintaan. Tetapi kisah ‘The Great Gatsby’ sebagai salah satu novel klasik terbaik dalam sejarah sastra Amerika, bercerita tentang American Dreams. Uang yang melimpah, pesta yang mewah, mobil bagus, jas mahal, dan tentunya seks. Jika Gatsby adalah sosok yang berhasil meraih American Dreams, Nick adalah pria yang baru hendak menapaki mimpi tersebut, namun akhirnya melihat betapa busuk dan memuakannya semua itu.

Akan tetapi interpretasi saya tentang film ini bisa saja salah. Maklum saja karena menurut beberapa sumber, usai novel ini diterbitkan, Fitzgerald mengeluhkan bahwa dari seluruh kritik yangditujukan pada novel ini, tidak ada satupun yang mampu memahami tentang makna sebenarnya dari ‘The Great Gatsby’. Dan mungkin memang belum ada seorang pun yang paham betul tentang apa sebenarnya film ini. Jika menurut beberapa orang interpretasi Luhrmann serta rekan penulisnya, Craig Pearce, terhadap kisah Gatsby adalah terlalu dangkal dan tidak menampilkan keseluruhan lapisan dan intrik di dalamnya, maka itu bisa saja. Tapi bagi saya yang memang tidak mengenal kisah ini sebelumnya serta belum membaca novelnya, saya cukup merasa puas menyaksikan Gatsby dan obsesinya berdasarkan perspektif Luhrmann, meskipun berarti saya ikut menjadi dangkal dan norak bersama Luhrmann, seperti tuduhan kritikus lainnya.